Loading...

Kasihannya! Jasad Terduga Teroris Ditolak Warga Tembung…Tengoklah Foto-fotonya

Loading...

Warga memasang spanduk penolakan terduga teroris Ardial Ramadhana. ANTO/CEKTKP

CEKTKP.ID, MEDAN – Kasihannya! Jasad terduga teroris yang masuk ke Mapolda Sumut dan membunuh salah seorang personel polisi, Aiptu M Sigalingging dan melukai seorang personel lainnya, Brigadir E Ginting, Minggu (25/6/2017) dinihari lalu, pukul 03.00 WIB, Ardial Ramadhana ditolak para tetangganya di Gang Dahlia, No. 33, Jalan Makmur, Dusun V, Desa Sambirejo Timur, Kecamatan Medan Tembung, Deliserdang, Sumatera Utara (Sumut), Rabu (28/6/2017).

Penolakan warga terhadap jenazah terduga teroris. ANTO/CEKTKP

Warga berkumpul di dekat rumah orangtua Ardial Ramadhana setelah mendapat informasi jenazah akan diserahkan dari Polda Sumut ke pihak keluarga.

“Kami dapat informasi katanya jenazah hari ini diserahkan. Terus terang saja, kami menolak jenazah dibawa ke kampung ini,” ujar Pujiono, salah seorang warga.

Baca Juga  Pengendara Mio Distop Polantas di Tangsel, Eh Malah Ngaku Anggota Teroris

Warga menulis di aspal penolakan jenazah terduga teroris. ANTO/CEKTKP

Menurutnya, warga tidak terima ada teroris yang berada di kampung mereka. Mereka membawa kain putih yang bertuliskan kalimat penolakan terhadap kedatangan jenazah.

“Aksi ini merupakan bentuk penolakan warga terhadap teroris ISIS. Kami tak mau masyarakat luas berpikir kalau kampung kami datang teroris,” ketusnya.

Jasad terduga teroris Ardial Ramadhana. ANTO/CEKTKP

Penolakan ini juga dipertegas oleh seorang bilal mayit bernama Pangihutan Nainggolan (66), warga lainnya.

Dia menolak kedatangan Ardial Ramadhana, karena diduga merupakan jaringan teroris ISIS. Pangihutan menegaskan pada masyarakat bahwa perbuatan teror tidak dapat diterima oleh umat muslim.

“Saya selaku Bilal di desa ini, menegaskan tidak akan mensalatkan jenazah teroris. Apapun ceritanya, jenazah itu harus dibawa pergi dari kampung ini,” tegasnya.

Baca Juga  Teroris Lakukan Penembakan di Mesjid Selandia Baru, Dua WNI Terluka

Pangihutan menambahkan, mereka tidak mau Desa Sambirejo ditandai oleh masyarakat luas sebagai sarang teroris.

“Desa ini dihuni oleh umat muslim yang mempedomani Islam Rahmatan Lilalamin,” ungkapnya. (anto)