Loading...

Rocky Gerung Dibandingkan ‘Sontoloyo’ Jokowi dengan Soekarno: Bung Karno Butuh 10 Pemuda bukan 1 Kakek-kakek

Loading...

Rocky Gerung memberikan tanggapan ketika pernyataan politikus sontoloyo oleh Jokowi dibandingkan dengan pidato Soekarno.

Sebab Rocky Gerung pun tahu bahwa kata-kata sontoloyo sejatinya pernah dilontarkan Soekarno pada era orde lama.

Hal itu terlihat saat Bambang Harymurti, Jurnalis senior memberikan penjelasan soal kata sontoloyo yang digunakan oleh Jokowi dan Soekarno.

Dilansir dari tayangan Bicara Politik Bohong di Ruang Publik CNN, Rocky Gerung tampak setuju soal pernyataan Bambang Harymurti perihal kata sontoloyo.

“Kata sontoloyo itu kan bagian dari judul pidato Bung Karno yang terkenal. Saya kira pasti itu (pidato tentang politikus sontoloyo) dibikinin sama seseorang,” ujar Bambang Harymurti.

“Iya memang,” jawab Rocky Gerung seraya mengangguk.

Namun, peneliti Perhimpunan Pendidikan Demokrasi itu menyebut bahwa ada faktor lain yang membuat Jokowi keceplosan menyebut kata sontoloyo dalam pidatonya.

Menurut Rocky Gerung, pidato Jokowi soal sontoloyo itu berasal dari tim yang ada di kubunya yang tidak becus.

Akibatnya menurut Rocky Gerung, Jokowi pun akhirnya melontarkan kata-kata yang menimbulkan sensasi.

“(Soal pernyataan politikus sontoloyo berasal dari) pertemuan antara kedung*an publik dan kebodohan elit. Pak Jokowi bilang kemudian hal yang jadi sensasi, soal sontoloyo. Itu memperlihatkan ada tim yang tidak mampu mengurus substansi makanya yang keluar sensasi,” ungkap Rocky Gerung.

Karenanya, Rocky Gerung pun meminta kepada Timses Jokowi-Maruf Amin, Budiman Sudjatmiko untuk menegur sang presiden.

Baca Juga  70 Persen Caleg PBB se Sumut Dukung Prabowo-Sandi

Bukan malah menyerang dirinya perihal penggunaan kosa kata.

Sebab kedudukannya, Jokowi adalah seorang presiden yang kembali diusung menjadi pemimpin.

“Mustinya Budiman (Timses Jokowi-Maruf Amin) jangan tegur saya. Tegur presiden Anda mengapa pakai kata sontoloyo,” jelasnya lagi.

Mendengar pernyataan itu, Budiman Sudjatmiko memberikan pembelaan.

Menurut Budiman Sudjatmiko, Jokowi sejatinya baru memberikan “sedikit” retorika ketika kontestasi dalam Pilpres.

“Kalau kita bicara, kata sontoloyo itu 0,01% dari retorika Pak Jokowi,” ucapnya.

Menanggapi pernyataan tersebut, Rocky Gerung pun kembali memberikan kritikannya terhadap Jokowi.

Bagi Rocky Gerung, justru karena jabatan Jokowi sebagai Presiden lah yang membuatnya harus hati-hati dalam berucap.

“Itu karena yang menyebutkan Presiden jadi 112%,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Rocky Gerung juga mengatakan bahwa retorika dalam politik jelang Pilpres 2019 akan terus berlanjut.

Karenanya kedua pasang calon haruslah bersiap-siap menghadapinya.

Namun, menurut Rocky Gerung, psikologis Jokowi nyatanya kini telah terganggu.

Hal itu terlihat dari penggunaan kata dari Jokowi menurut Rocky Gerung sudah tak bisa lagi dikontrol.

“Perang retoris ini masih akan terlihat dan berlanjut. Saya lihat dalam dua hari terakhir ini jelas psikologis bapak Presiden Republik Indonesia sangat terganggu. Dia nggak bisa lagi kontrol emosinya,” imbuhnya.

Meski begitu, Rocky Gerung mengaku senang ketika mengetahui sekarang Jokowi telah banyak mengutip pernyataan Soekarno.

Termasuk ketika menggunakan kata sontoloyo pada pidatonya beberapa waktu lalu.

Baca Juga  Timses: Jokowi Baca Komik Doraemon Memberi Inspirasi Mengatur Indonesia

Namun, seolah ingin menyindir kubu Jokowi, Rocky Gerung justru memberikan penjelasan soal isi pidato Soekarno yang lain.

Yakni soal pernyataan Soekarno yang ingin memajukan Indonesia dengan aksi para pemuda.

Rocky Gerung menyebut bahwa yang dibutuhkan Soekarno ketika ingin membuat Indonesia maju adalah pemuda, bukan sosok tua atau kakek-kakek.

“Saya justru senang karena Pak Jokowi mulai banyak mengutip Bung Karno. Sontoloyo segala macem. Bung Karno bilang begini, beri aku 10 pemuda dan aku akan mengguncang dunia. Bung Karno Bilang 10 pemuda, bukan 1 kakek-kakek,” pungkasnya.

Kembali menegaskan pernyataannya, Rocky Gerung pun mengatakan bahwa yang dibutuhkan Istana saat itu adalah tenaga dari para pemuda.

Tenaga para pemuda yang cakap guna membangun Indonesia ke arah yang lebih baik.

Bukan kaum tua yang menurut Rocky Gerung tidak sebanding dengan kebutuhan Indonesia saat ini.

“Jadi kita ingin ada pemuda di luar Istana yang datang ke Bung Karno. Bukan pemuda dalam istana yang bolak balik cari nasi bungkus. Jadi sekali lagi, yang dibutuhkan Bung Karno adalah pemuda bukan kakek-kakek,” jelasnya.

sumber: tribunnews.com