Loading...

Berdagang Dibahu Jalan, Pedagang Suka Ramai Medan Digusur

Loading...

CEKTKP, MEDAN-Puluhan pedagang kaki lima (PKL) Pasar Sukaramai, Jalan AR Hakim, Kecamatan Medan Area, tidak terima lapak jualan mereka digusur. Para pedagang yang berjualan khusus malam hari ini, meminta Camat Medan Area, Ali Sipahutar agar memperbolehkan mereka tetap berjualan. Karena menurut mereka, lapak yang mereka gunakan selama ini sudah disewa melalui para juru parkir (jukir) yang di kelola M Nasution Cs.

Namun permintaan para pedagang itu ditolak mentah-mentah Ali Sipahutar. Dengan didampingi para lurahnya, Selasa (31/1) malam, sekira jam 20.00 wib, menegaskan para pedagang yang telah memakai badan jalan jelas-jelas sudah menyalahi aturan, dalam hal ini Perda Kota Medan.

“Berdasarkan Perda yang ada, secara tegas dilarang berjualan di atas badan jalan umum. Pemerintah tidak pernah melarang warga untuk berjualan, tapi tidak harus di badan jalan dan kalau mau silakan di atas trotoar sepanjang itu tidak mengganggu ketertiban umum,” ungkapnya.

Baca Juga  Lagi Heboh Megawati Nyuekin Surya Paloh, NasDem: Tidak Perlu Dibesar-besarkan

Menyikapi keluhan pedagang yang telah menyewa lapak melalui para jukir, dia menegaskan, jika hal itu bukan tanggungjawabnya. “Itu tanggungjawab tukang parkirlah. Dalam hal ini, kami hanya menjalankan perintah Bapak Walikota Medan,” tandasnya.

Dan perlu diketahui, lanjutnya, sebelum dilakukan penggusuran, Pemko Medan cq Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) sudah melayangkan surat imbauan, berbunyi peringatan agar pedagang tidak lagi berjualan di atas badan jalan. “Lebih kurang seperti itulah bunyi surat imbauan tersebut,” tutup Ali.

Terpisah, beberapa pedagang yang didominasi ibu-ibu meminta Walikota Medan, Dzulmi Eldin agar bisa memberikan solusi bagi mereka. “Kami berharap Walikota Medan memperhatikan kami yang rakyat kecil ini. Kami hanya mencari makan, agar anak-anak kami bisa makan dan sekolah. Karena kalau kami tidak berjualan dalam satu hari saja, anak-anak kami jadi terancam tak makan,” sebut Ita, salah seorang pedagang.(CEKTKP/Anto)