Loading...

Bolos Ngantor 62 Hari Eh Jadi Tukang Ojek, Polisi Berpangkat Ipda Dipecat

Loading...

Cektkp.id- Ipda Triadi diberhentikan secara tidak hormat alias dipecat lantaran tak berkantor tanpa izin pimpinan selama 62 hari kerja secara berturut turut. Pemecatannya diputuskan dalam Sidang Komisi Kode Etik Profesi (KKEP) Polri yang digelar di Mapolda Sulawesi Tenggara (Sultra), Jumat sore (9/8).

Perwira yang bertugas di Satuan Sabhara, Kepolisian Resor (Polres) Kendari, itu dipecat lantaran tak berkantor tanpa izin pimpinan selama 62 hari kerja secara berturut-turut.

Kepala Bidang Humas Polda Sultra, AKBP Harry Goldenhardt, mengatakan Ipda Triadi dinyatakan melanggar Pasal 13, ayat (1) Jo Pasal 14 ayat 1 huruf a PP RI No 1 Tahun 2003 dan Pasal 7 ayat 1 huruf e Perkap Nomor 14 tahun 2011 tentang Kode Etik Profesi Polri.

Menurut Harry, perbuatan Triadi sudah dua kali dilakukan. Pertama, saat Triadi masih menjabat sebagai Wakil Kepala Polsek Waworete, ia juga tak berkantor tanpa izin pimpinan.

Baca Juga  Jakarta Diguncang Gempa Kuat

Namun, saat itu, Triadi masih diberi toleransi. Ia hanya diproses melalui sidang disiplin, sesuai surat Keputusan Hukuman Disiplin (SKHD) Nomor: KEP/04/I/ HUK12.10.1/2019/Sipropam, Kamis (17/8).

“Saat itu, terdakwa (Triadi) juga meninggalkan tugas secara berturut-turut, mulai tanggal 1 sampai 26 Agustus 2018, sewaktu masih menjabat Wakapolsek Waworete, Polres Kendari,” jelas Harry.

Setelah itu, Triadi dimutasi menjadi Pama Satuan Sabhara Polres Kendari, tapi dia kembali mengulangi perbuatanya dengan meninggalkan tugas tanpa izin pimpinan mulai tanggal 27 Agustus- 15 Oktober 2018.

Jadi totalnya, terdakwa tidak melaksanakan tugas tanpa seizin pimpinan selama 62 hari kerja, atau selama dia menjabat sebagai Pama Sat Sabhara, terdakwa absen,” kata Harry.

Baca Juga  Mau ke Hotel Adi Mulia Medan, Samsung S7 Milik Bule Italia Raib Dijambret

Dalam persidangan, kata Harry, Triadi menyadari perbuatanya karena tidak menjalankan tugas selama dua bulan lebih. Selama tidak menjalankan tugas, Triadi mengaku menjadi tukang ojek.

“Iya benar, jadi alasan pelanggar tidak melaksanakan tugas tanpa izin pimpinan karena menjadi tukang ojek, dengan penghasilan Rp 30 ribu sampai Rp 50 ribu per hari,” ujar Harry.

Pemecatan perwira itu tertuang dalam Surat Keputusan Nomor: PUT.KKEP/ 09 /VII/2019/KKEP tanggal 19 Juli 2019.

Sumber: kumparan.com