Loading...

Mahasiswa Indonesia di Taiwan Tegaskan Tak Ada Kerja Paksa dan Makan Babi

Loading...

Cektkp.id- Para mahasiswa asal Indonesia di Universitas Hsing Wu, Distrik Linkou, New Taipei, Taiwan, membantah kabar tentang dugaan kerja paksa di negeri tersebut.

Hartika, mahasiswa jurusan Marketing, mengatakan, sejak awal datang ke Taiwan, dia sudah diberitahukan akan kuliah sambil magang. “Kami pun menyanggupinya tanpa ada paksaan dari pihak mana pun. Kami ingin mandiri dan ingin membiayai uang kuliah dengan kerja keras sendiri tanpa meminta kepada orangtua lagi,” ujar Hartika saat dihubungi VIVA, Kamis malam, 3 Januari 2019.

Menurut Hartika, magang kerja tersebut tergantung jurusan mahasiswa tersebut kuliah. Dia magang di sebuah perusahaan e-commerce. Mahasiswa semester satu ini menjelaskan, pekerjaan yang dijalani berbeda-beda. “Ada yang di bagian packing, scan barang masuk, scan barang keluar, mencari barang, nempelin barcode,” katanya.

tempat bekerja, mereka disediakan tempat ibadah serta makanan ringan. Dia membantah soal kabar dugaan para mahasiswa Muslim dari Indonesia dipaksa makan babi. “Sama sekali enggak benar,” ujar Hartika.

Baca Juga  Modus Nyelam, Empat Pria Nekat Colek Bokong dan Dada Wisatawan Pemandian Air Panas Guci

Soal makanan, menurut Hartika, tergantung dari diri masing-masing. Bisa atau tidaknya menjaga atau bersikap hati-hati dalam mencoba makanan. “Tidak ada pemaksaan sama sekali,” katanya.

Dia kembali menekankan, “Tidak ada yang namanya kerja paksa. Dari awal kami sudah mengetahui bahwa kami magang sambil bekerja”.

Hal senada dikemukakan Wira, mahasiswa asal Indonesia lainnya. Menurut dia, berita soal dugaan kerja paksa itu adalah berita yang tidak sesuai kenyataan sebenarnya. “Kami sama sekali tidak dituntut secara paksa untuk bekerja,” ujarnya saat dihubungi VIVA.

Dia menambahkan, “Malahan yang sebenarnya adalah kami di tahun pertama tidak diwajibkan untuk bekerja, akan tetapi untuk biaya kehidupan sehari hari, sekolah menyediakan perusahaan tempat magang yang sesuai dengan jurusan masing-masing”.

Baca Juga  Polisi Dibantu Ulama FPI dan Majelis Zikir untuk Redakan Kerusuhan di Petamburan

Soal dugaan dipaksa makan makanan tidak halal, Wira juga membantahnya. “Saya sendiri Muslim, dan pastinya saya tidak makan babi dan sebagainya, itu semua tidak benar. Malahan perusahaan yang mengingatkan kami bahwa ini tidak halal,” kata mahasiswa semester satu jurusan Teknologi Informasi tersebut.

Menurut Wira, kebanyakan mahasiswa di sana lebih memilih untuk masak makanan sendiri di apartemen masing-masing. Saat ini, Wira mengungkapkan, ada sekitar 230-an mahasiswa dari Indonesia yang terdiri atas tujuh kelas berbeda di kampus tersebut.

Sumber: viva.co.id