Loading...

Lion Air JT-610 Jatuh Dilihat Langsung Nalayan: Oleng, Duaaarrr Seperti Suara Petir

Loading...

Jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 di perairan Tanjung Karawang rute Bandara Soekarno-Hatta tujuan Bandar Udara Depati Amir Pangkal Pinang, ternyata dilihat langsung oleh sejumlah nelayan setempat.

Seperti yang diungkap Samin (53), salah satunya. Pencari ikan itu mengaku melihat langsung detik-detik pesawat tersebut oleng.

“Jam 7an saya lihatnya,” ucap Samin di Pantai Tanjung Pakis, Karawang, Jawa Barat, Senin (29/10/2018).

Saat itu, Samin melihat betul pesawat sesaat sebelum jatuh.

“Pas (pesawat) oleng saya lihat. Pas jatuhnya enggak lihat,” jelasnya.

Akan tetapi, ia kemudian langsung mendengar suara ledakan disertai gumpalan asap.

“Ledakan memang mendengar, sama ada gumpalan asap tebal,” lanjutnya.

Samin menyebut, jatuhnya pesawat berpenumpan 181 itu sendiri cukup jauh dari lokasi pengeboran milik Pertamina Hulu Energi (PHE) ONWJ.

“Lumayan Jauh (lokasi kejadiannya),” tuturnya.

Senada, Dadang juga mengaku melihat langsung proses jatuhnya pesawat nahas itu.

Pria yang sehari-hari berjualan di Panrai Pakis itu juga mendengar suara ledakan pesawat yang sangat keras.

Hanya saja dirinya tidak begitu jelas melihat asap yang keluar dari pesawat tersebut.

“Pas kejadian saya dengan suara duarrrr. Kayak ledakan. Saya pikir itu suara petir karena mendung. Kalau asapnya nggak begitu keliatan,” ucapnya.

Sebelumnya, Pesawat Lion Air dengan nomor penenerbangan JT 610 jatuh setelah lepas landas dari Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta pukul 06:20 WIB.

Sebelum lepas landas, pesawat dengan rute penerbangan Cengkareng menuju Pangkalpinang ini ternyata sempat mengalami masalah teknis.

Corporate Communications Strategic of Lion Air, Danang Mandala Prihantoro mengatakan, setelah 13 menit mengudara pesawat jatuh di koordinat S 5’49.052” E 107’ 06.628” atau di sekitar wilayah Karawang.

Baca Juga  Kesaksian Nelayan Desa Tanjung Pakis, Pesawat Berputar-Putar Lalu Menukik Tajam ke Laut

“Pesawat mengangakut 178 penumpang dewasa satu penumpang anak-anak dan dua penumpang bayi termasuk dalam penerbangan ini ada tiga pramugari sedang pelatihan dan satu teknisi,” ujarnya dalam siaran persnya, Senin (29/10).

Pesawat dengan regitrasi PK-LQP jenis Boieng 737 MAX 8 diproduksi pada 2018 dan baru dioperasikan oleh Lion Air sejak 15 Agustus 2018.

“Pesawat dinyatakan laik operasi,” imbuhnya.

Pesawat dikomandoi Capt. Bhavye Suneja dengan copilot Harvino bersama enam awak kabin atas nama Shintia Melina, Citra Noivita Anggelia, Alviani Hidayatul Solikha, Damayanti Simarmata, Mery Yulianda, dan Deny Maula.

Kapten pilot sudah memiliki jam terbang lebih dari 6.000 jam terbang dan copilot telah mempunyai jam terbang lebih dari 5.000 jam terbang.

“Lion air sangat prihatin dengan kejadian ini dan akan berkerjasama dengan instansi terkait dan semua pihak sehubungan dengan kejadian ini,” tuturnya.

Terkait dengan kejadian ini pihaknya membuka crisis center di nomor telepon 021-80820000 dan untuk infomasi penumpang di nomor telpon 021-80820002.

“Kami akan terus memberikan informasi terbaru sesuai perkembangan lebih lanjut,” lanjutnya.

Sementara Presiden Direktur Lion Air, Edward Sirait mengaku bahwa ada masalah teknis pada pesawat sebelum terbang ke Pangkalpinang.

Namun masalah tersebut sudah diperbaiki dan dianggap laik terbang.

Dalam konfrensi pers di Jakarta, Edward membenarkan setelah terbang terakhir dari Lombok ke Cengkareng tadi malam ada pemberitahuan mengenai kendala teknis pada pesawat.

“Tadi malam itu langsung ditangani oleh mekanik dan setelah itu dianggap laik terbang. Tidak mungkin ada rilis terbang kalau memang ada masalah teknis,” jelas Edward, Senin (29/10/2018).

Edward sendiri tidak mau berspekulasi mengenai kondisi 189 penumpang termasuk kru pesawat Lion Air JT-610 yang diketahui jatuh di Laut Karawang.

Baca Juga  Pesawat Lion Air JT 610 Jatuh, Ini 8 Faktanya

“Saya belum bisa mengucapkan bela sungkawa kepada siapa. Kita belum tahu kondisi mereka (penumpang) bagaimana,”

“Pastinya yang ada di dalam pesawat itu adalah saudara kita semua, tidak ada dibedakan, kita semua berharap yang terbaik,” tuturnya.

Hingga saat ini, petugas gabungan dari Basarnas, SAR, TNI dan Polri tengah melakukan pencarian.

Sejumlah keluarga korban juga terus berdatangan ke lokasi kejadian. Mereka meminta kepastian soal keluarganya yang akan dievakuasi.

Bupati Karawang Cellica Nurrachadiana mengatakan, untuk korban yang saat ini sudah ditemukan akan langsung dilarikan ke posko di Tanjung Priok.

Selanjutnya, korban akan langsung dibawa ke RS Polri di Kramat Jati, Jakarta Timur.

“Untuk yang ditemukan saat ini langsung dilarikan ke Tanjung Priok sebagai posko pertama. Kemudian dilarikan ke RS Kramat Jati,”

“Namun kita nggak bisa mengevakuasinya dalam satu hari,” ujarnya di Pantai Tanjung Pakis, Karawang, Jawa Barat, Senin (29/10).

Meski ada yang langsung dibawa ke Jakarta, Cellica juga menyebut kemungkinan adanya beberapa korban yang akan dievaluasi Posko DVI Polda Jabar yang berada di dekat lokasi kejadian.

“Jadi nanti ketika ada nelayan kami atau warga kami yang menemukan jenazah korban maka akan dievakuasi di posko Tanjung Pakis ini yang kami akan larikan ke RS Polri,” tandasnya.

sumber: pojoksatu.id