Loading...

Kasus Tewasnya Terduga Pelaku Penggelapan Uang Rp6 Miliar Milik BRI Cabang Putri Hijau Berlanjut ke KontraS…

Loading...

Keluarga terduga pelaku melapor ke KontraS. IST/CEKTKP

CEKTKP.ID, MEDAN – Keluarga almarhum Chairul Ridho mendatangi Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Sumatera Utara (Sumut) karena menilai ada kejanggalan dalam penembakan tersangka kasus dugaan penggelapan Rp6 miliar milik BRI Cabang Putri Hijau pada Oktober 2017 lalu.

“Kami melapor ke KontraS karena ada kejanggalan atas kematian adik kami. Itu kami lakukan mengingat kami tidak tahu mau mengadu dan melapor ke mana. Makanya kami ke KontraS,” kata abang kandung almarhum Ridho, Jumadi kepada wartawan, akhir pekan kemarin.

Ia mengaku, kedatangan mereka ke KontraS, Rabu (21/2/2018) lalu, sekitar pukul 13.31 WIB, untuk menceritakan kejanggalan proses penangkapan yang dilakukan tim gabungan Polrestabes Medan dan Polda Sumut pada 13 Januari 2018 lalu.

“Saya heran dengan prosedur penangkapan yang dilakukan pihak polisi ditindak tegas karena mencoba melarikan diri. Padahal, adik saya dijemput petugas kepolisian saat dia habis mengabsen di kantornya dan adik saya tidak melawan saat dipanggil petugas kepolisian. Saya mengetahui hal itu karena almarhum menelpon saya saat dia dijemput polisi pascamengabsen di kantornya,” ujar warga Jalan Sunggal, Gang Kenangan ini.

Sementara itu, Koordinator Badan Pekerja KontraS Sumut, M Amin Multazam Lubis saat dihubungi melalui selularnya, mengatakan berdasarkan keterangan versi kepolisian, Chairul Ridho terpaksa ditindak tegas karena mencoba melarikan diri dan berusaha merebut pistol polisi.

“Namun, pernyataan justru menyiratkan beberapa pertanyaan, mulai dari dugaan ketidakprofesionalan aparat dalam penegakan perkara, unprosedur dan pemeriksaan, ketidakjelasan penetapan status Chairul Ridho, serta berbagai keterangan pihak keluarga yang mengindikasikan ada kejanggalan dalam kasus ini,” kata Amin Multazam.

Baca Juga  Penumpang Turun Karena Bau Durian, Sriwijaya Air: Mengangkut Durian Tidak Menyalahi Aturan Penerbangan

Amin mengatakan korban ditangkap pada tanggal 12 Januari 2018 pagi lalu.

Sebelumnya, pada 6 Desember 2017, Chairul Ridho juga dibawa oleh polisi. Pihak keluarga sempat kehilangan kontak dan kecarian, akhirnya korban pulang ke rumah di sore hari pada 7 Desember.

“Dari pengakuan keluarga korban saat datang ke sini (KontraS), Chairul Ridho dibawa ke sebuah rumah di daerah Multatuli Jalan H Misbah untuk dimintai keterangan terkait kasus penggelapan uang Rp6 miliar,” ujarnya.

Menurut amatan KontraS, korban mengaku kepada keluarga, sebelumnya juga ditangkap pada 6 Desember 2017 ditanyai soal kasus uang Rp6 miliar dan sempat di sekap di sebuah rumah di daerah Multatuli lalu dilepas.

“Setelah itu, tanggal 12 Januari 2018 korban kembali ditangkap di kantornya. Namun menurut hasil investigasi KontraS, pada saat dibawa pihak kepolisian terlihat akrab, dan tidak ada tanda-tanda jika korban masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) polisi,” kata Amin.

Masih dikatakan Amin, informasi dari pihak keluarga, Ridho dijemput empat petugas kepolisian saat sedang bekerja di kantornya PT Beringin Gigantara di Jalan Merak, No.58, Medan, Jumat (12/1/2018) lalu sekitar pukul 07.30 WIB.

Penjemputan tidak dilakukan secara resmi melalui surat yang diberitahukan kepada pihak manajemen kantor tempatnya bekerja.

Karena keberadan Ridho tidak diketahui, maka pihak keluarga, Sabtu (13/1/2018) pagi lalu mendatangi Mapolrestabes Medan. “Namun oleh pihak kepolisian yang saya temui dikatakan tidak tahu Ridho berada di mana,”kata Amin mengulang omongan abang kandung almarhum, Jumadi.

Jumadi mengatakan, Sabtu (13/1/2018) lalu, sekitar pukul 23.45 WIB, pihak kepolisian dari Polrestabes, yakni Iptu H Manullang menyerahkan surat penangkapan Ridho kepada keluarga.

Baca Juga  Gempa 5,6 SR Guncang Bitung, Manado Juga Bergetar

“Polisi datang bersama Kepling bertemu keluarga saya. Sekaligus dikatakan adik saya Ridho sudah meninggal,” ujarnya.

Pihak keluarga, katanya, menolak menandatangani tanda terima surat penangkapan tersebut.

Terkait tuduhan keterlibatan Ridho melarikan uang BRI, Jumadi mengatakan adiknya berbeda jenis pekerjaan dengan dua karyawan BRI, yakni Nanda dan Herman, yang disebut-sebut sudah ditangkap kepolisian.

Nanda bekerja di bagian Tambahan Kas Kantor (TKK), sedangkan Ridho bekerja di bagian CIT (penutupan setoran) sebagai pekerja outsourcing.

Ia menjelaskan, pada saat peristiwa hilangnya uang Rp6 miliar milik BRI itu, Ridho sedang berada di Pekanbaru menghadiri pesta pernikahan keluarganya.

“Benar saat itu Ridho berada di Pekanbaru. Dia kirim foto-foto dengan kedua pengantin ke WA-ku,” kata Jumadi mengulang perkataan rekan sekerja Ridho, Suryono.

Menurut penuturan Suryono, kata Jumadi, Pagi hari Ridho tiba di Pekanbaru, sore harinya BRI kehilangan uang Rp6 miliar.

“Selain tidak ada hubungan kerja, masing-masing juga berstatus pegawai di perusahaan yang tidak sama. Nanda dan Herman pegawai BRI, Ridho outsourcing,” katanya.

Ditambahkannya, sebelum penjemputan Ridho pada Jumat lalu, sekitar dua minggu lalu dia juga pernah diperiksa pihak kepolisian selama dua hari.

Terhadap sejumlah fakta kejanggalan penembakan Ridho, Jumadi menyatakan tidak terima atas tindakan pihak kepolisian. (anto)