Kasus Perdagangan Manusia ke Malaysia Terbongkar, Salut Buat Pak Polisi…

Ilustrasi

CEKTKP.ID, MEDAN Seorang wanita yang hendak menjual para wanita ke Malaysia ditangkap petugas Subdit IV/Renakta Ditreskrimum Poldasu di Tol Belmerah Tanjungmorawa, Deliserdang, Sumatera Utara (Sumut) saat menuju Bandara Kualanamu untuk memberangkatkan para korbannya.

Informasi dihimpun CekTKP, Jumat (23/2/2018), tersangka berinisial LS (45), warga Komplek Perumahan Viktoria, Delitua, bersama tujuh orang korbanya yang kesemuanya wanita diamankan ke Mapoldasu guna penyidikan.

Setelah menjalani pemeriksaan, para korban diamankan di Rumah Aman (Dinas Perlindungan Anak) di Jalan Gunung Mas, Medan, sebelum dipulangkan ke kampung halaman masing-masing.

“Tersangka LS bersama tujuh korbannya menggunakan dua mobil hendak ke Bandara Kualanamu. Mereka berupaya mengecoh polisi dengan mutar-mutar, tapi akhirnya kita tangkap di jalan tol Tanjungmorawa,” kata Dirreskrimum Poldasu, Kombes Pol Andi Rian Djajadi melalui Kasubdit IV/Renakta AKBP Leonardo D Simatupang yang memimpin langsung penangkapan bersama Kanit 4 Kompol Robin Surbakti kepada wartawan.

Leonardo mengatakan, ketujuh wanita yang menjadi korbannya berasal dari Jawa Barat (Jabar), Bengkulu, Lampung dan Medan. Mereka direkrut di Medan dengan mengurus paspor.

Para korban, sambung Leonardo, dijanjikan bekerja sebagai Pembantu Rumah Tangga (PRT) di Malaysia dengan upah 1.000 ringgit setiap bulan.

Semua dokumen keberangkatan para korban diurus tersangka LS. Mereka diberangkatkan melalui Bandara Kualanamu dengan status pelancong.

“Untuk menghindari pemeriksaan dari beacukai, para korban diperintahkan tersangka LS agar mengaku sebagai pelancong,” jelas Leonardo.

Disebutkannya, walau tersangka LS mengaku baru kali ini hendak menjual para wanita ke Malaysia, namun pihaknya masih melakukan pengembangan karena tidak tertutup kemungkinan adanya keterlibatan orang lain.

Bahkan, tambah Leo, pihaknya akan melakukan penyelidikan dengan bekerja sama dengan pihak Imigrasi dan pihak terkait lainnya untuk menelusuri adanya dugaan pemalsuan data dalam kepengurusan paspor para calon korbannya tersebut.

Kepada tersangka LS, imbuh perwira melati dua itu, dipersangkakan melanggar UU Perlindungan Pekerja Migran Indonesia No.18 Tahun 2017 dengan ancaman hukuman 10 tahun penjara dan Pasal 4 dan 10 UU No.21 Tahun 2007 Tentang Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).

Sebagai barang bukti, petugas menyita sejumlah paspor, hape dan tiket pemberangkatan para korban.(anto)