Dirut PT Perkebunan Sumut, Darwin Nasution Punya Kasus di Poldasu, Ini Perkembangannya…

Dirut PT Perkebunan Sumut, Darwin Nasution. CINTPERKEBUNAN.BLOGSPOT.COM

CEKTKP.ID, MEDAN – Kasus pemberangusan hak-hak pekerja perkebunan di perkebunan Tanjung Kasau, Kabupaten Batubara, yang dilakukan Direktur Utama (Dirut) PT Perkebunan Sumut, Darwin Nasution yang ditangani Subdit IV/Tipidter Ditreskrimsus Polda Sumut, sudah masuk ke tahap penyidikan.

Informasi dihimpun CekTKP, Jumat (12/1/2018), hal ini berdasarkan Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penydikian (SP2HP) yang dikeluarkan Ditreskrimsus Polda Sumut tertanggal 27 September 2017 lalu.

Dalam keterangan surat itu disebutkan, penyidik Subdit IV/Tipidter Ditreskrimsus Polda Sumut telah melakukan pemeriksaan atas korban, Rusli.

Kemudian, sedikitnya ada 13 saksi yang sudah diperiksa, ditambah lagi 2 orang saksi ahli. Dan dalam SP2HP itu pula, disebutkan akan segera dilakukan gelar perkara terhadap kasus itu.

Namun sayangnya, ketika hal itu dikonfirmasikan ke Kasubdit IV/Tipidter Ditreskrimsus Polda Sumut, AKBP Robin Simatupang, tak ada jawaban signifikan yang diberikan. “Kasus yang mana? Coba nanti saya cek dulu ya,” jawab Robin dari seberang telepon, Kamis (11/1/2018).

Jawaban singkat Robin ini seolah menunjukkan ada hal yang ditutup-tutupi. Sebab, SP2HP yang diterbitkan tersebut ditandatangani langsung oleh Robin.

Terpisah, Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Sumut, Willy Agus Utomo selaku pelapor kasus tersebut yang juga dikonfirmasi via seluler, membenarkan hal itu.

Baca Juga  Soal Pelayanan di RS Pirngadi Medan,  LAPK Bilang Begini...

“Kasusnya itu kami laporkan tanggal 9 Mei 2017 lalu. Pada bulan September 2017 lalu, kita memang ada menerima SP2HP-nya dan dalam surat itu disebutkan akan segera digelar perkaranya,” ucapnya.

Dia juga turut membenarkan, dalam laporannya itu, yang menjadi terlapor adalah Dirut PT Perkebunan Sumut, Darwin Nasution.

Dia menjelaskan, kasus itu bermula ketika perusahaan perkebunan milik PT Perkebunan Sumut yang beralamat di Desa Lau Tador, Kecamatan Sei Suka, Kabupaten Batu Bara tersebut diduga melakukan pemberangusan serikat pekerja FSPMI yang dibentuk para pekerjanya pada April 2017 lalu.

“Dirut PT PSU telah melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap tiga orang pengurus PUK FSPMI di PT PSU yang baru sah tercatat di Disnaker Batu Bara pada awal Mei 2017,” terang Willy.

Dia membeberkan, dalam kasus ini, Dirut PT Perkebunan Sumut, Darwin Nasution sebagai terlapor sesuai laporan polisi No.STTLP/325/V/2017/SPKT “I” tertanggal 9 Mei 2017.

Dalam kasus tersebut, Darwin Nasution dan manajemen perusahaan perkebunan diduga telah melanggar Pasal 28 Jo Pasal 43 UU 21 tahun 2000 Tentang Kebebasan Berserikat.

“Laporan kami Pasal 28 jo Pasal 43 UU 21 tahun 2000, siapapun dilarang menghalang-halangi pekerja untuk membentuk serikat pekerja. Apalagi dengan melakukan PHK. Ini merupakan tindak pidana kejahatan. Dalam pasal itu, pelaku dapat dihukum 1-5 tahun penjara,” terangnya.

Baca Juga  Kasus Perdagangan Manusia ke Malaysia Terbongkar, Salut Buat Pak Polisi...

Adapun tiga orang yang di-PHK sepihak oleh PT Perkebunan Sumut tersebut, sebutnya, yakni Rusli (41), jabatan Ketua PUK FSPMI PT Perkebunan Sumut, Sugianto (47), Wakil Ketua dan M Adi Sumantri (47).

“Ketiganya sudah bekerja 17 tahun di perusahaan itu, hanya karena menjadi pengurus serikat mereka di-PHK pada tanggal 5 Mei 2017,” bebernya.

“Ini perusahaan pemerintah provinsi, pemilik sahamnya Gubernur. Jika PT Perkebunan Sumut tidak mempekerjakan kembali pekerja yang di-PHK, maka kita akan seret Tengku Erry selaku pemilik saham dalam kasus ini. Kasihan mereka (para pekerja yang di-PHK),” tegasnya.

Willy berharap agar penyidik Subdit IV/Tipidter Ditreskrimsus Poldasu untuk segera menuntaskan kasus itu. “Kita akan segera surati penyidik Poldasu, agar segera menuntaskan kasus tersebut,” tandasnya.

Terpisah, Dirut PT Perkebunan Sumut, Darwin Nasution terkesan lebih memilih bungkam saat dikonfirmasi wartawan via pesan WhatsApp. Dia hanya membaca pesan konfirmasi wartawan, namun tak membalasnya. (anto)