Loading...

Warga Simalingkar A Yang Nginap di Kantor DPRD Sumut, Katanya Sempat Diintimidasi Oknum Aparat, Ini Pengakuannya… 

Loading...

Warga Simalingkar A yang mengungsi di kantor DPRD Sumut. ANTO/CEKTKP

CEKTKP.ID, MEDAN – Polda Sumut tengah mempelajari dugaan intimidasi dan pengancaman yang dialami sejumlah warga Desa Simalingkar A, Kecamatan Pancur Batu, Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara (Sumut), beberapa waktu lalu.

Kepada wartawan, Rabu (26/7/2017), Kasubbid Penmas AKBP MP Nainggolan menyatakan, pihaknnya masih perlu memastikan ada atau tidak laporan masyarakat yang mengaku sebagai korban pengancaman dan intimidasi tersebut. Namun dipastikan, pihaknya akan memproses setiap laporan yang ada.

“Saya belum dapat pastikan apakah sudah ada laporan tertulis dari masyarakat yang mengaku mendapat intinidasi atau pengancaman tersebut. Masih perlu saya konfirmasi ke SPKT Poldasu atau jajaran Polrestabes Medan. Tapi yang pasti, setiap laporan pasti akan kami tindaklanjuti sesuai hukum yang berlaku,” tegasnya.

Diketahui sebelumnya, Ketua DPRD Sumut Wagirin Arman “dikepung” dan nyaris diamuk massa yang berasal dari Desa Simalingkar A, Pancurbatu, Deliserdang yang menginap di gedung DPRD Sumut, Jalan Imam Bonjol, No.5, Medan, sejak Senin (24/7), karena merasa kesal atas tidak adanya ketegasan dan keputusan dari wakil rakyat terhadap nasib warga yang digusur pihak PTPN II melalui tangan preman bertopeng dan aparat berseragam.

Mantan anggota DPRD Sumut, Syamsul Hilal menemui dan berbincang dengan korban penggusuran yang menginap di DPRD Sumut. ANTO/CEKTKP

Baca Juga  Perayaan Ulang Tahun Inalum, 13 Ribu Peserta Ikuti Jalan Santai

Kejadian ini bermula ketika warga desa yang sudah 1 malam menginap di gedung DPRD Sumut ingin menemui Wagirin Arman, guna minta ketegasan dan perlindungan tentang nasib yang mereka alami.Hal itu dilakukan, agar pihak PTPN II menghentikan aksi pembersihan dan perusakan, rumah maupun tanaman mereka.

Warga yang sudah menunggu Wagirin Arman sejak pukul 16.00 WIB, tapi tidak diberikan kepastian, apakah bisa diterima atau tidak. Lebih dari 2,5 jam menunggu membuat emosi masyarakat tersulut, sehingga para pengungsi itu berbondong-bondong naik ke lantai dua dan menunggu di depan ruangan Wagirin Arman. Tapi sayangnya, Wagirin tidak juga keluar dari ruangannya.

Juru bicara masyarakat Nelson Peranginangin heran terhadap sikap Wagirin yang enggan menerima kehadiran masyarakat.

“Nasib kami sudah genting, makanya kami berbuat seperti ini. Rumah kami sudah hancur kalau menunggu sampai tanggal 1 Agustus baru diadakan rapat dengar pendapat dengan PTPN II, Kapoldasu dan Badan Pertanahan Nasional (BPN) Sumut untuk menyelesaikan persoalan rakyat,” katanya.

Warga Simalingkar A korban penggusuran yang nginap di DPRD Sumut sedang makan. ANTO/CEKTKP

Diketahui, puluhan warga Desa Simalingkar A, Pancurbatu, Deliserdang, meminta perlindungan ke DPRD Sumut, Kamis (20/7/2017) lalu, karena mengaku diintimidasi dan dianiaya kelompok preman bertopeng bersama oknum aparat, gara-gara menolak meninggalkan 850 hektare yang menurut mereka sebagai tanah ulayat keturunan Sibayak Lau Cih yang diklaim PTPN 2 sebagai lahan HGU-nya.

Baca Juga  Terseret Sejauh 30 Kilometer, Dua Korban Banjir Bandang di Labura Ditemukan Tewas

Hal itu diungkapkan perwakilan masyarakat dari Desa Simalingkar A, Ngaku Br Sinukaban, Karni Sembiring Pelawi dan Julianus Sembiring, kepada Ketua DPRD Sumut Wagirin Arman, Wakil Ketua Ruben Tarigan, anggota Komisi A Syamsul Qadri Marpaung dan Darmawansyah Sembiring.

Menurut Ngaku dan Julianus, tindakan kelompok preman bersama oknum aparat keamanan diduga suruhan PTPN 2 telah melanggar hasil Rapat Dengar Pendapat Komisi A DPRD Sumut, yang intinya meminta kedua belah pihak tidak melakukan kegiatan apapun di lahan yang bersengketa.

Tapi ternyata, pihak PTPN 2 dan oknum aparat bersama para preman bertopeng melakukan pembersihan di sekitar lokasi dengan alat-alat berat.

“Jelas ada perlawanan dari masyarakat, karena rumah maupun jambur yang sudah ada sejak dulu dihancurkan, sehingga para preman melakukan intimidasi dan penganiayaan, hingga terjadi benturan fisik,” jelas Ngaku. (anto)