BNN dan Polisi Diraja Malaysia Sita 15,53 Kg Sabu dan 79.905 Ekstasi, Tersangkanya…

Petugas memaparkan tersangka dan barang bukti. ANTO/CEKTKP

CEKTKP.ID, MEDAN – Personel gabungan dari Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia (BNN-RI) bersama Polisi Diraja Malaysia dan jajaran Polda Sumut membekuk empat orang tersangka pengedar narkotika berupa 15,53 kg dan 79.905 butir ekstasi jaringan internasional melalui penyergapan terhadap satu unit minibus di halaman Hotel Antara, Jalan Gatot Subroto, Medan, Sumatera Utara (Sumut), Minggu (25/2/2018) lalu.

Direktur Prosekusor dan Psikotropika BNN RI, Brigjen Pol Anjan Pramuka kepada wartawan, Selasa (27/2/2018) siang di RS Bhayangkara Medan, menyebutkan dalam penyergapan tersebut salah seorang dari empat tersangka yang terlibat atas nama AM alias Amrizal (26), terpaksa ditembak mati petugas karena melakukan perlawanan dan berupaya kabur saat dibawa melakukan pengembangan kasus di kawasan Kabupaten Langkat.

Dijelaskan, tiga tersangka lain yang diamankan dari sindikat peredaran narkotika Malaysia-Aceh-Sumut tersebut, di antaranya AR alias Amir (23), ZU alias Zul (35) dan DS alias Marpaung (34).

Pengungkapan kasus itu sendiri, kata Anjan Pramuka, dilakukan setelah pihaknya menyelidiki informasi adanya proses penyelundupan narkoba dari malaysia menuju Indonesia melalui jalur laut di perbatasan. Selanjutnya, mereka berkoordinasi dengan Polisi Diraja Malaysia sejak sebulan tetakhir.

“Semula Kita mendapat informasi adanya proses penuelundupan narkoba yang masuk ke Indonesia melalui jalur laut Sumatera melalui Malaysia menuju perairan di daerah Aceh dan Medan. Pengintaian kita lakukan hampir selama satu bulan dan berkordinasi dengan Polisi Diraja Malaysia melalui sharing informasi,” ungakap Anjan.

Lebih lanjut diungkapkan Anjan, tim gabungan selanjutnya melakukan upaya penggerebekan di dua lokasi terpisah di sekitar hotel kawasan Jalan Gatot Subroto, Medan.

Dari upaya penyergapan para tersangka yang terlibat itu petugas berhasil mengamankan empat orang pria, AR alias Amir (23), AM alias Amrizal (26), ZU alias Zul (35), dan DS alias Marpaung (34).

Dalam upaya pengembangan tersangka AM yang merupakan warga asal Aceh berusaha melakukan perlawanan dan terpaksa diberi tindakan tegas hingga akhirnya meninggal dunia.

“Tersangka AM yang merupakan warga asal Aceh terpaksa diberi tindakan tegas dan berupa tembakan karena melakukan perlawanan dan berusaha kabur saat kita lakukan upaya pengembangan di perbatasan Medan-Aceh,” jelasnya.

Dikatakan Anjan, tersangka yang langsung diboyong ke Rumah Sakit Bhayangkara Medan untuk mendapatkan perawatan medis usai ditindak tegas kemudian tak berhasil diselamatkan nyawanya dan meninggal dunia dalam perjalanan.

Dikatakan Anjan, BNN menyatakan tegas pihaknya tidak sungkan menembak mati bandar narkoba yang melakukan perlawanan saat diamankan.

“‎Di sini kita perlu menyampaikan pesan bahwa jaringan narkoba apapun khususnya bandar, petugas tidak sungkan melakukan tindakan tegas apabila melakukan perlawanan,” tegas Anjan.‎

‎

Ajan menambahkan, dalam proses peredaran narkoba sindikat jaringan tersebut tersangka AM yang ditembak mati petugas diketahui berperan sebagai pengendali pasokan narkoba yang berhasil diselundupkan ke Indonesia.

Sedangkan tiga tersangka lain yang turut diamankan merupakan kurir penerima barang yang telah diselundupkan.

“Tersangka AM yang kita tindak tegas ini merupakan pengendali dalam proses peredaran narkoba yang telah diselundupkan dari luar negeri ke wilayah Indonesia. Sedangkan tiga tersangka lain yang diamankan merupakan kurir penerima barang yang selanjutnya akan diedarkan,” jelasnya.

Dari pengungkapan kasus itu, tim gabungan menyita setidaknya barang bukti berupa 15,53 Kg sabu dan 79.905 butir ekstasi dari para tersangka.

“Barang bukti narkoba yang kita amankan dari para tersangka ini semula direncanakan bukan hanya diedarkan di Medan tapi juga beberapa kota besar lain Indonesia. Atas kasus ini para tersangka yang diamankan terancam dijerat Pasal 112, 114 UU No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika dengan hukuman minimal diatas 20 tahun penjara dan maksimal penjara seumur hidup atau hukuman mati,” pungkasnya. (anto)

‎