Kasus Sabu Libatkan Kapolsek Lolowau Nisel, Barang Buktinya Banyak Kali…

Kapoldasu Irjen Pol Paulus Waterpauw didampingin pejabat utama Polda Sumut memaparkan tersangka dan barang bukti. ANTO/CEKTKP

CEKTKP.ID, MEDAN – Kasus peredaran sabu yang melibatkan Kapolsek Lolowau, Nias Selatan (Nisel) dan satu oknum personil Polres Tanjungbalai, Sumatera Utara (Sumut), Selasa (5/12/2017) kemarin, Direktorat Reserse (Ditres) Narkoba Polda Sumut mengamankan 14 tersangka dengan total barang bukti 38 kilo sabu.

Kapolda Sumut, Irjen Pol Paulus Waterpauw didampingi Direktur Reserse Narkoba Polda Sumut Kombes Pol Hendri Marpaung dan pejabat utama Polda Sumut lainnya, Rabu (6/12/2017), menyebutkan penangkapan ke-14 tersangka jaringan narkotika internasional Indonesia-Malaysia itu dilakukan sejak 25 November lalu hingga Selasa (5/12/2017) malam kemarin. Penangkapan dilakukan dari sejumlah lokasi.

Empat tersangka di antaranya terpaksa dihadiahi pelor, bahkan satu tersangka tewas tertembus peluru tajam petugas.

Ditegaskan Waterpauw, pengungkapan kasus narkotika itu merupakan tindak lanjut dari tiga informasi yang diperoleh pihaknya.

“Melalui penyelidikan atas informasi itu tim pertama kali menangkap tersangka bernama Mudawali (31), warga Jalan Marindal I, Gang Madrasah, Desa Marindal I, Kecamatan Patumbak, pada Sabtu, 25 November 2017 lalu.

Tersangka ditangkap di jalan lintas Medan-Banda Aceh, di Desa Batu Lenggang, Kecamatan Hinai, Kabupaten Langkat, tepatnya di depan sebuah warung internet (warnet) dengan barang bukti 6 kilo sabu dikemas plastik teh hijau Guan Yin Wang,” sebut Waterpauw.

Hasil interogasi terhadap tersangka, lanjut Waterpauw, polisi selanjutnya melakukan pengengembangan. Petugas menyelidiki keberadaan tempat penyimpanan sabu dari jaringan tersebut di Medan.

Dari situ, petugas kembali melakukan penangkapan, Selasa (28/11/2017) pagi, terhadap tersangka Paujari (45) dari kediamannya di Jalan Pasar I, Lingkungan VII, Kecamatan Medan Marelan. Dari rumah tersangka disita barang bukti berupa 6 kilo sabu lain yang tersimpan dalam kotak dibungkus koran.

Kembali, petugas melakukan pengembangan. Petugas menyeser kawasan Desa Sampali, Deliserdang. Dalam pengembangan itu, tersangka Paujari mencoba melarikan diri. Petugas terpaksa melumpuhkannya dengan sebuah tembakan di kaki kiri tersangka.

“Nah, dari hasil interogasi terhadap tersangka Mudawali dan tersangka Paujari, tim kemudian mendalami informasi tentang adanya pengiriman sabu dari Tanjungbalai menuju Medan. Jadi pada, Minggu (3/12/2017) kemarin, diperoleh informasi, jaringan sindikat tersebut akan menjemput narkoba di Jalan Turi, Medan. Sekitar pukul 11.00 WIB, tim membuntuti pelaku yang menjemput sabu di Jalan Turi, Medan, dengan mengendarai mobil,” ungkap Waterpauw.

Pengejaran itu dilakukan petugas hingga ke kawasan Jalan Gaperta Ujung, Medan Helvetia. Di situ, petugas kembali menangkap dua orang tersangka, Conary Pernando Sitorus (46), wiraswasta, warga Jalan Sunggal, No.75, Kecamatan Medan Sunggal dan Gema Sitorus (56), sopir, warga Desa Suka Maju Indah, Kecamatan Sunggal.

Petugas menggeledah mobil yang dikendarai keda tersangka dan menemukan barang bukti sabu lainnya seberat 15 kilogram kemasan teh merek Guan Yin Wang yang disimpan di dalam sebuah tas.

Baca Juga  Demi Bayar Utang Keluarga, Ini yang Dilakukan 2 Pemuda Asal Aceh, Tapi...

Berdasarkan penyidikan petugas, kedua tersangka mengaku mendapat sabu tersebut dari tersangka Mhd Diani Sitorus als Koro (40) yang selanjutnya berhasil ditangkap setelah sempat menabrakkan mobil yang dikendarainya ke mobil petugas di kawasan Namorambe.

Belakangan terungkap, tersangka Koro merupakan seorang pengusaha yang berdomisili di Teluk Nibung, Desa Perjuangan, Kecamatan Teluk Nibung, Tanjungbalai.

“Selain menangkap tersangka Koro, tim juga mengamankan tiga rekannya, di antaranya Riawan (34) alias Athong, warga Jalan Ringroad/Jalan Gagak Hitam, No.9A, Kecamatan Sunggal dan dua oknum Polisi menjabat Kapolsek Lolowau di Kabupaten Nisel, AKP Basar Siregar (44), warga Jalan Duria, Komplek Royal Duria, No.2A, Kelurahan Kisaran Naga, Kecamatan Kisaran Timur, Kabupaten Asahan dan Bripda MHD Yogi Maulana Sitompul (22), warga Jalan Kampung Jawa, Gang Ule, Kelurahan Padang Matinggi, Kecamatan Rantau Utara, Kabupaten Labuhanbatu,” jelasnya.

Setelah mengamankan seluruh pelaku, selanjutnya Tim Unit 2 Subdit II Ditresnarkoba Polda Sumut mengembangkan terhadap pemesan sabu tersebut. Dari penyelidikan itu, petugas menangkap dua orang kurir yang mengambil pesanan, yakni Arif Ari Body (28), warga Tanjung Baru, Pasar IX, Jalan Bakaranbatu, Dusun II, Kecamatan Tanjungmorawa, Deliserdang yang memesan 2 kilogram sabu dan Jonny (45), warga Jalan Titi Papan Simpang Dobi, Gang Nuri, Kelurahan Titi Papan, Kecamatan Medan Deli, yang memesan 3 kilo sabu dari para tersangka.

Setelah dilakukan interogasi diketahui sabu 3 kilo itu telah dibawa pergi ke daerah Helvetia, Medan. Kemudian dilakukan pengembangan dengan membawa tersangka Koro yang mengetahui lokasi 3 kilo sabu tersebut disembunyikan. Tetapi saat turun dari mobil, tersangka Koro berupaya melawan polisi. Ia mencoba merebut senjata polisi, sehingga ditindak tegas polisi.

Penangkapan Keempat, dari hasil interogasi terhadap pelaku, diketahui ada sabu yang terjual ke Tanjung Pura, Langkat. Polisi kembali menyelidikinya. Senin (4/12) kemarin, petugas tiba di Jalan Titi Baru, Desa Teluk Bakung, Kecamatan Tanjung Pura, Langkat.

“Pada pukul 11.00 WIB, diketahui ada tiga orang yang diduga membawa sabu langsung dilakukan penangkapan, ketiganya adalah M Aman Sapuan (22), mahasiswa, warga Desa Pekuburan, Kecamatan Tanjung Pura, Langkat; Ahmad Zulvi (40), wiraswasta, penduduk Desa Pekuburan, Kecamatan Tanjung Pura, Langkat dan Alfa Chandra (35), wiraswasta, warga Desa Pekuburan, Kecamatan Tanjung Pura, Langkat,” lanjut Paulus.

Dari ketiganya, petugas menyita barang bukti berupa sebungkus sabu yang dikemas dalam bungkus teh bertuliskan Guan Yin Wan. Saat akan dilakukan pengembangan, tersangka M Aman Sapuan berupaya melarikan diri, sehingga dilumpuhkan dengan menembak kakinya.

Penangkapan Kelima, Selasa (5/12) malam kemarin, sekira jam 23.00 wib. Petugas kembai menangkap tersangka lain di Jalan Putri Hijau, Medan, tepatnya di depan Merdeka Walk. Tersangka yang ditangkap adalah Suryono (44), karyawan swasta, warga Jalan Perjuangan, Gang Tunggal, No.19, Kecamatan Medan Perjuangan, yang juga disebut-sebut “bos besar” dengan barang bukti 10 kilo sabu dalam mobil Toyota Avanza warna hitam BK 1674-KD yang dikendarainya. Saat dibawa melakukan pengembangan tersangka Suryono berupaya melarikan diri sehingga kakinya ditembak polisi.

Baca Juga  Dua Kurir Asal Aceh Diciduk, Barang Buktinya Banyak, Tujuannya ke Daerah Ini...

Dari lima kali pengungkapan ini, Ditresnarkoba Poldasu menyita total barang bukti sebanyak 38 kg sabu dan menangkap 14 orang tersangka. Empat tersangka terpaksa ditembak petugas, satu di antaranya meninggal dunia.

“Keseluruhan tersangka ini merupakan anggota jaringan sindikat internasional yang dikendalikan oleh bandar dari Malaysia bernama Polytron. Kasus ini selanjutnya masih akan dilakukan penyelidikan dan penyidikan lebih lanjut terhadap pengendali jaringan internasional ini yang berada di Malaysia,” pungkas Paulus.

AKP BS dan Bripda YMS Berteman Sama BD

Berkaitan dua oknum anggota Polri, AKP BS, Kapolsek Lolowau, Nisel dan Bripda YMS, anggota Polres Tanjungbalai yang turut diciduk dalam serangkaian penangkapan tersebut, Polda Sumut menduga keduanya berteman dengan para bandar narkoba.

Direktur Reserse Narkoba Polda Sumut, Kombes Pol Hendri Marpaung, menyebutkan keduanya diamankan ketika sedang bersama tersangka MDS (40) dan R alias Atong (34) dengan barang bukti 15 kilogram sabu.

“Kedua anggota Polisi yang turut terjaring dalam kasus ini ditangkap bersama dengan beberapa tersangka bandar yang diamankan atas kepemilikan 15 kilogram sabu, Selasa (5/12) kemarin. Kita menduga keduanya ini (AKP BS dan Bripda YMS) berteman dengan para bandar tersebut,” sebut Hendri.

Berkaitan hal itu Hendri menyebutkan, pihaknya saat ini masih berupaya mendalami peran kedua oknum Polri berpangkat AKP dan Bripda itu dengan kaitan jaringan sindikat peredaran sabu tersebut.

“Tentu kita dalami peran mereka mengenai hubungannya dengan sindikat jaringan ini. Propam Poldasu juga masih melakukan pemeriksaan terhadap keduanya. Apakah keduanya terlibat dalam jaringan itu atau tidak, untuk mamastikannya masih dilakukan pemeriksaan, ” jelasnya.

Sementara itu ketika ditanya mengenai kode etik profesi kedua oknum polisi itu, Hendri Marpaung tak menampik keberadaan keduanya di lokasi penangkapan para tersangka jelas merupakan pelanggaran kode etik.

“Memang sudah termasuk pelanggaran kode etik, apalagi keduanya ini berada di luar wilayah hukumnya pada saat diamankan bersama para tersangka bandar 15 kilo sabu tersebut. Tapi untuk kepastian selanjutnya masih dilakukan pemeriksaan, kita berharap rekan-rekan bersabar. Pasti akan kita sampaikan perkembangannya nanti,” tambah Hendri. (anto)