Kasus Perdagangan Orang, Poldasu Periksa Petugas Imigrasi…

Ilustrasi

CEKTKP.ID, MEDAN Subdit IV/Renakta Direktorat (Dit) Reskrimum Polda Sumut masih terus mengembangkan penyelidikan dan penyidikan kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO). Sejumlah saksi telah dimintai keterangan dari pihak Imigrasi di Sumut.

“Hari ini (kemarin) kita periksa pihak Imigrasi dari Tanjung Balai-Asahan sebagai saksi. Kemarin, kita juga sudah memeriksa dari pihak Imigrasi Medan Jalan Gatot Subroto Medan,” ujar Kasubbid Penmas Polda Sumut, AKBP MP Nainggolan, Selasa (27/2/2018).

Menjawab wartawan, Nainggolan menyebutkan, setiap saksi yang diperiksa penyidik bisa saja statusnya naik menjadi tersangka. Namun, penetapan tersangka harus memiliki bukti yang cukup.

“Pemeriksaan pihak Imigrasi terkait terbitnya pasport para korbannya. Setiap saksi yang diperiksa penyidik, bisa saja menjadi tersangka kalau memang terbukti terlibat suatu tindak pidana,” kata Nainggolan.

Sebelumnya, Seorang wanita yang hendak menjual para wanita ke Malaysia ditangkap petugas Subdit IV/Renakta Ditreskrimum Poldasu di Tol Belmera Tanjung Morawa ketika menuju Bandara Kualanamu untuk memberangkatkan para korbannya.

Tersangka berinitial LS (45), warga Komplek Perumahan Viktoria Delitua bersama tujuh orang korbanya yang kesemuanya wanita diamankan ke Mapoldasu guna penyidikan.

Setelah menjalani pemeriksaan, para korban diamankan di Rumah Aman (Dinas Perlindungan Anak) di Jalan Gunung Mas, Medan, sebelum dipulangkan ke kampung halaman masing-masing.

“Tersangka LS bersama tujuh korbannya menggunakan dua mobil hendak ke Bandara Kualanamu. Mereka berupaya mengecoh polisi dengan mutar-mutar, tapi akhirnya kita tangkap di Jalan Tol Tanjung Morawa,” terang Direktur Reskrimum Poldasu, Kombes Pol Andi Rian melalui Kasubdit IV/Renakta AKBP Leonardo D Simatupang, kemarin.

AKBP Leonardo mengatakan, ketujuh wanita yang menjadi korbannya berasal dari Jawa Barat (Jabar), Bengkulu, Lampung dan Medan. Mereka direkrut di Medan dengan mengurus pasport.

Para korban, sambung Kasubdit IV/Renakta tersebut, dijanjikan bekerja sebagai Pembantu Rumah Tangga (PRT) di Malaysia dengan upah 1000 ringgit setiap bulan.

Semua dokumen keberangkatan para korban diurus tersangka LS. Mereka diberangkatkan melalui Bandara Kualanamu dengan status pelancong.

“Untuk menghindari pemeriksaan dari Bea Cukai, para korban diperintahkan tersangka LS agar mengaku sebagai pelancong,” jelas AKBP Leonardo.

LS dipersangkakan melanggar UU Perlindungan Pekerja Migran Indonesia No.18 Tahun 2017 dengan ancaman hukuman 10 tahun penjara dan Pasal 4 dan 10 UU No.21 Tahun 2007 Tentang Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO). Sebagai barang bukti, petugas menyita sejumlah paspor, HP dan tiket pemberangkatan para korban. (anto)