Loading...

Mau Tahu Fakta Baru Kasus Kabag Sumda Polres Deliserdang Tabrak Lari Siswi SMP, Ini Dia…

Loading...

Anggota Komisi A DPRD Sumut, Sutrisno Pangaribuan. ANTO/CEKTKP

CEKTKP.ID, MEDAN – Kasus tabrak lari yang dilakukan Kabag Sumda Polres Deliserdang, Kompol Delami Saleh berujung kriminalisasi terhadap warga, tak henti-hentinya menuai cibiran masyarakat.

Bahkan, anggota DPRD Sumut, Sutrisno Pangaribuan juga turut angkat bicara. Tak tanggung-tanggung, politisi PDI Perjuangan itu juga menguak fakta baru dari kasus itu.

Kepada wartawan, Minggu (10/12/2017), Sutrisno miris mengetahui sikap dan prilaku yang ditunjukkan Kompol Delami Saleh.

“Sebagai aparat harusnya menegakkan hukum, bukannya melanggar hukum. Dalam kasus ini memang, aksi pemukulan warga terhadap polisi itu juga tidak dibenarkan. Itu tetap pidana. Namun yang perlu digaris bawahi adalah pemukulan itu merupakan rentetan dari aksi tidak terpuji dari polisi yang tidak mau bertanggungjawab itu,” sebutnya.

Anggota Komisi A DPRD Sumut ini menambahkan, dalam kasus ini, polisi tersebut (Kompol Delami Saleh), harus diproses sesuai hukum yang berlaku.

“Jangan karena dia polisi, lantas kasusnya tidak diproses. Malah ini fatal, dia harus diproses secara hukum pidana karena kecelakaan lalulintas (lakalantas) dan juga kode etiknya secara kepolisian,” pungkasnya.

Dia mengungkap fakta baru yang menjadi bukti bila benar telah terjadi lakalantas tersebut. “Kalau ada lakalantas itu, dibuat laporan (LP)-nya dulu, setelah itu baru keluar biaya Jasa Raharja-nya. Kalau tidak ada LP, namun keluar biaya dari Jasa Raharja atas kasus lakalantas itu, berarti Jasa Raharja ini telah diskriminatif terhadap warga. Jadi siapa yang mengurus Jasa Raharjanya? Jangan karena dia polisi, tidak buat LP, bisa begitu saja keluar Jasa Raharjanya. Kalau warga biasa, harus buat LP dulu baru dikeluarkan Jasa Raharjanya,” bebernya.

Terpisah, Reni, istri Afandi, warga yang menjadi korban kriminalisasi atas kasus lakalantas yang dilakukan Kompol Delami, ketika dikonfirmasi membenarkan, yang membayar biaya perawatan/perobatan Inka Kristanti (15), siswi SMP Negeri 1 Batangkuis di RS Patar Asih, Lubukpakam, adalah pihak Jasa Raharja.

“Iya Jasa Raharja yang bayar biaya perawatannya. Buktinya ada. Selama 4 hari 4 malam korban kecelakaan (Inka Kristanti) dirawat di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Patar Asih,” bebernya.

Diberitakan sebelumnya, desakan agar Kompol Delami diproses hukum dan kode etik muncul dari Direktur Utama (Dirut) Pusat Study Hukum dan Pembaharuan Peradilan (PusHpa) Sumut, Muslim Muis.

Baca Juga  Risma Sudah Cabut Laporan, Polisi: Zikria Belum Tentu Bebas

“Kalau begitu, dia (Kompol Delami) harus diproses hukum. Azas equality before the law, semua orang berkedudukan sama di mata hukum. Jangan karena dia polisi, kasusnya tidak diproses. Malah dia yang fatal, dia penegak hukum tapi melanggar hukum,” tegasnya.

Mantan Wakil Direktur (Wadir) Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan ini juga menegaskan, jika kasus lakalantas itu tidak diproses, atau sengaja dibiarkan, maka hal itu sudah melanggar Undang-Undang (UU) Hak Azasi Manusia.

“Kalau kasus lakalantasnya tidak diproses, atau ada pembiaran, berarti itu sudah melanggar UU Hak Azasi Manusia. Kapolres Deliserdang harus memproses itu, jangan hanya mendiamkan kasus itu atau malah melindungi bawahannya yang salah. Kasus lakalantasnya ada pasal hukumnya, harus diproses. Kasus pemukulan itu juga pidana, harus juga diproses. Artinya, semuanya sama di mata hukum. Pada dasarnya juga, pemukulan itu karena sikap tidak profesional polisi itu. Siapa yang tak geram, sudah diingatkan baik-baik, malah ditabrak,” tuturnya.

Tidak tanggung-tanggung, Muslim Muis juga meminta agar Kabag Sumda Polres Deliserdang, Kompol Delami dicopot dari jabatannya. “Proses pidana harus jalan, proses kode etik juga harus jalan. Bila perlu dipecat,” pungkasnya.

Sementara Kapolres Deliserdang, AKBP Eddy Suryantha Tarigan dalam keterangannya kepada wartawan, terkesan membela bawahannya.

“Saat itu pelaku langsung memukul Kompol Delami ketika korban berhenti dan membuka kaca mobilnya di tempat kejadian perkara (TKP), sehingga korban mengeluarkan darah segar dari hidungnya. Korban dituduh telah menabrak pengendara sepeda motor Yamaha F1 ZR yang dikendarai Inka Kristanti, perempuan (15), warga Dusun 5, Desa Bintang Meriah, Kecamatan Batangkuis,” terang Eddy Suryanta Tarigan.

“Dari pemeriksaan saksi di lapangan, Inka Kristanti jatuh sendiri dari kendaraannya, karena ia mencoba memotong laju mobil yang dikendarai Kompol Delami Saleh, stang sepeda motornya mengenai lampu rem belakang mobil Kompol Delami,” ujarnya.

Apa yang disampaikan Eddy Suryantha Tarigan, berbanding terbalik dengan apa yang sebelumnya diutarakan Reni, istri Afandi.

Baca Juga  Kenalan di Facebook, Pria 18 Tahun Mantap-mantap Gadis 16 Tahun, Video Juga Disebar

Menurut keterangan Reni menuturkan apa yang diceritakan suaminya kepadanya di berita sebelumnya, pagi itu Inka Cristanti yang mengendarai sepeda motor F1 ZR berangkat sekolah ke SMP Negeri 1 Batangkuis.

Sesampainya di Jalan Batangkuis-Lubukpakam, tiba-tiba muncul mobil Toyota Avanza warna putih plat nomor F 1675 NK dari arah belakang dan langsung berhenti mendadak di depan siswi SMP tersebut. Tak ingin menabrak mobil, Inka Cristanti langsung menginjak rem dan sesaat itu juga berhenti. Inka kemudian belok ke kanan untuk melewati dari sisi kanan mobil milik orang nomor 4 di Polres Deliserdang tersebut.

Nah, saat Inka mulai berjalan, tiba-tiba mobil tersebut juga melaju dan menyenggol stang sepeda motor siswi SMP tersebut. Stang sepeda motor berbelok mengenai bagian perut Inka, dia langsung terjerembab dan nyaris tak sadarkan diri, terkapar di aspal. Kaca lampu belakang mobil pecah, bodinya peyot.

Mirisnya, mobil itu langsung tancap gas. Melihat itu, Afandi langsung mengejar mobil yang dikemudikan Kompol Delami dengan beberapa orang lainnya.

Enam ratus meter kemudian, berhasil dihentikanlah mobil tersebut oleh Afandi. Afandi memalangkan sepeda motor yang dikemudikannya Honda Vario BK 3582 AEG. Dia meminta agar Kompol Delami bertanggungjawab. Bukannya turun, Kompol Delami malah menginjak rem mobilnya dan menabrak Afandi sampai terjatuh bersama sepeda motornya.

Singkat cerita, Afandi emosi, ditambah lagi Kompol Delami tak mau bertanggungjawab, Afandi kemudian melayangkan bogem mentah ke hidung Kompol Delami. Darahpun mengucur dari hidung Kompol Delami.

Di lokasi itu, ada personel Koramil Batangkuis yang disebut Reni, istri Afandi, bernama Muslim. Saat itu Muslim menyuruh Afandi membawa sepeda motor dan helmnya ke rumahnya. Dan Muslim yang akan membawa Kompol Delami ke Polsek Batangkuis.

Ujung-ujungnya, kasus yang diproses hukum adalah kasus pemukulan, sementara kasus lakalantas yang dilakukan Kompol Delami sama sekali tak diproses. (anto)