Loading...

Kasus Perwira Polisi Tabrak Lari, Ini Pesan Pengamat Hukum kepada Kapolres Deliserdang…

Loading...

Direktur PusHpa Sumut, Muslim Muis. INT/CEKTKP

CEKTKP.ID, MEDAN – Aksi kriminalisasi Kabag Sumda Polres Deliserdang, Kompol Delami Saleh terhadap Muhammad Afandi, warga Kecamatan Batangkuis, Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara (Sumut) terus memantik reaksi keras masyarakat.

Kali ini datangnya dari pengamat hukum Sumatera Utara (Sumut), Muslim Muis. Direktur Pusat Study Hukum dan Pembaharuan Peradilan (PusHpa) Sumut ini secara tegas mengatakan, kasus kecelakaan lalulintas (lakalantas) yang melibatkan Kompol Delami tersebut harus diproses hukum. Karena, itu merupakan tindak pidana.

“Kalau begitu, dia (Kompol Delami) harus diproses hukum. Azas equality before the law, semua orang berkedudukan sama di mata hukum. Jangan karena dia polisi, kasusnya tidak diproses. Malah dia yang fatal, dia penegak hukum tapi melanggar hukum,” tegasnya, Sabtu (9/12/2017).

Mantan Wakil Direktur (Wadir) Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan ini juga menegaskan, jika kasus lakalantas itu tidak diproses, atau sengaja dibiarkan, maka hal itu sudah melanggar Undang-Undang (UU) Hak Azasi Manusia.

“Kalau kasus lakalantasnya tidak diproses, atau ada pembiaran, berarti itu sudah melanggar UU Hak Azasi Manusia. Kapolres Deliserdang harus memproses itu, jangan hanya mendiamkan kasus itu atau malah melindungi bawahannya yang salah. Kasus lakalantasnya ada pasal hukumnya, harus diproses. Kasus pemukulan itu juga pidana, harus juga diproses. Artinya, semuanya sama di mata hukum. Pada dasarnya juga, pemukulan itu karena sikap tidak profesional polisi itu. Siapa yang tak geram, sudah diingatkan baik-baik, malah ditabrak,” tuturnya.

Selain masalah pidana lakalantas, imbuhnya lagi, Kompol Delami tersebut harus diproses kode etik. “Proses pidana harus jalan, proses kode etik juga harus jalan. Bila perlu dipecat,” pungkasnya.

Sementara, Kapolres Deliserdang, AKBP Eddy Suryantha Tarigan dalam keterangannya terkesan membela bawahannya. Itu diungkapkan Eddy Surantha Tarigan kepada wartawan di Mapolres Deliserdang, Jumat (8/12/2017).

Dikatakan orang nomor satu di Polres Deliserdang itu, M Afandi, disebut sebagai pelaku penganiayaan Kompol Delami Saleh. Dia ditangkap di Kutacane, Aceh Tenggara, Rabu (6/12/2017) lalu, pukul 06.00 WIB.

Baca Juga  Kadernya Diduga Terlibat Tewasnya Bocah SD, PSI Ogah Beri Bantuan Hukum

Afandi ditangkap berdasarkan Laporan Polisi No:LP/70/XI/2017/SU/RES DS/SEK BT KUIS, yang dilaporkan Kompol Delami Saleh, disebut sebagai korban, tanggal 25 November 2017.

Kejadian pemukulan bermula saat Kompol Delami Saleh mengendarai mobil Toyota Avanza BK 1657 NK, dikejar dan diberhentikan oleh Afandi di Jalan Batangkuis–Lubukpakam, tepatnya di Dusun IV, Sabtu (25/11/2017) pagi, sekira pukul 07.10 WIB.

“Saat itu pelaku langsung memukul Kompol Delami ketika korban berhenti dan membuka kaca mobilnya di tempat kejadian perkara (TKP), sehingga korban mengeluarkan darah segar dari hidungnya. Korban dituduh telah menabrak pengendara motor Yamaha F1 ZR yang dikendarai Inka Kristanti (15), warga Dusun 5, Desa Bintang Meriah, Kecamatan Batangkuis,” terang Eddy Suryanta Tarigan.

Ditambahkanya, dari keterangan saksi di lapangan, Kompol Delami Saleh tidak mengetahui ada pengendara motor yang jatuh karena ia merasa tidak ada menabrak pengendara motor.

“Dari pemeriksaan saksi di lapangan, Inka Kristanti jatuh sendiri dari kendaraannya, karena ia mencoba memotong laju mobil yang dikendarai Kompol Delami Saleh, stang keretanya mengenai lampu rem belakang mobil Kompol Delami,” ujarnya.

Diterangkannya lagi, saat kejadian pemukulan ada anggota Koramil Batangkuis bernama Muslim yang sedang lewat. Karena takut diamuk massa, Kompol Delami Saleh dibawa ke Polsek Batangkuis untuk diamankan. Selanjutnya korban membuat laporan pengaiayaan.

“Saya juga telah mengonfirmasi kepada korban (Kompol Delami), dia telah memaafkan pelaku pemukulan tersebut. Tapi korban tetap menyerahkan sepenuhnya kepada proses hukum,” kata Eddy.

Apa yang disampaikan Eddy Suryantha Tarigan, berbanding terbalik dengan apa yang sebelumnya diutarakan Reni, istri Afandi.

Menurut keterangan Reni menuturkan apa yang diceritakan suaminya kepadanya di berita sebelumnya, pagi itu Inka Kristanti yang mengendarai motor F1 ZR berangkat sekolah ke SMP Negeri 1 Batangkuis.

Sesampainya di Jalan Batangkuis-Lubukpakam, tiba-tiba muncul mobil Toyota Avanza warna putih plat nomor F 1675 NK dari arah belakang dan langsung berhenti mendadak di depan siswi SMP tersebut. Tak ingin menabrak mobil, Inka Cristanti langsung menginjak rem dan sesaat itu juga berhenti. Inka kemudian belok ke kanan untuk melewati dari sisi kanan mobil milik orang nomor 4 di Polres Deliserdang tersebut.

Baca Juga  Andi Arief Ketahuan Nyabu dengan Cewek di Kamar Hotel

Nah, saat Inka mulai berjalan, tiba-tiba mobil tersebut juga melaju dan menyenggol stang sepeda motor siswi SMP tersebut. Stang sepeda motor berbelok mengenai bagian perut Inka, dia langsung terjerembab dan nyaris tak sadarkan diri, terkapar di aspal. Kaca lampu belakang mobil pecah, bodinya peyot.

Mirisnya, mobil itu langsung tancap gas. Melihat itu, Afandi langsung mengejar mobil yang dikemudikan Kompol Delami dengan beberapa orang lainnya.

Enam ratus meter kemudian, berhasil dihentikanlah mobil tersebut oleh Afandi. Afandi memalangkan sepeda motor Honda Vario BK 3582 AEG yang dikemudikannya. Dia meminta agar Kompol Delami bertanggungjawab. Bukannya turun, Kompol Delami malah menginjak rem mobilnya dan menabrak Afandi sampai terjatuh bersama keretanya.

Singkat cerita, Afandi emosi, ditambah lagi Kompol Delami tak mau bertanggungjawab, Afandi kemudian melayangkan bogem mentah ke hidung Kompol Delami. Darahpun mengucur dari hidung Kompol Delami.

Di lokasi itu, ada personel Koramil Batangkuis yang disebut Reni, istri Afandi, bernama Muslim. Saat itu Muslim menyuruh Afandi membawa kereta dan helmnya ke rumahnya. Dan Muslim yang akan membawa Kompol Delami ke Polsek Batangkuis.

Ujung-ujungnya, kasus yang diproses hukum adalah kasus pemukulan, sementara kasus lakalantas yang dilakukan Kompol Delami sama sekali tak diproses. (anto)