Loading...

Kasus Perwira Polisi Nabrak Siswi SMP, Politisi Ini Minta Kabag Sumda & Kapolsek Batangkuis Diproses Hukum

Loading...

Politisi PDI Perjuangan Sumut. INT/CEKTKP

CEKTKP.ID, MEDAN – Polda Sumut masih akan mengecek kebenaran kasus larinya Kabag Sumda Polres Deliserdang, Kompol Delami Saleh setelah menabrak Inka Kristanti (14), siswi Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Batangkuis, Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara (Sumut), pada 25 November 2017 lalu, yang berujung pada kriminalisasi terhadap warga.

Informasi dihimpun CekTKP, Sabtu (9/12/2017), hal itu dikemukakan Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol Rina Sari Ginting ketika dikonfirmasi wartawan, Jumat (8/12/2017). “Akan kita cek dulu kasusnya,” jawabnya singkat.

Terpisah, politisi PDI Perjuangan, Syamsul Hilal turut angkat suara mengenai kasus tersebut. Secara tegas, politisi yang sempat dua periode menjadi anggota DPRD Sumut itu menunjukkan sikap dan prilaku Kabag Sumda Polres Deliserdang, Kompol Delami Saleh dan Kapolsek Batangkuis, AKP B Panjaitan tidak mencerminkan seorang polisi yang profesional.

“Hahaha, ini salah satu bentuk ketidakprofesionalan polisi. Seorang polisi yang merupakan penegak hukum, malah melanggar hukum. Nabrak orang sampai dua kali, namun bukannya tanggungjawab, malah melarikan diri,” tegasnya.

Secara tegas, Syamsul Hilal, meminta agar Kabag Sumda Polres Deliserdang, Kompol Delami Saleh dan Kapolsek Batangkuis, AKP B Panjaitan diproses hukum.

“Ini Kapolres Deliserdang harus memberi sanksi kepada kedua bawahannya ini. Yang nabrak itu (Kompol Delami), kasus menabrak orang itu harus diproses secara pidana dan kode etik polisi. Untuk Kapolseknya (AKP B Panjaitan) itu juga melanggar, harus diproses,” tandasnya.

Syamsul Hilal yang saat menjadi anggota dewan selalu duduk di Komisi A membidangi masalah hukum dan pemerintahan ini menambahkan, bila tidak ada reaksi atau proses hukum yang dilakukan oleh Kapolres Deliserdang terhadap Kompol Delami Saleh dan AKP B Panjaitan, maka sama halnya Kapolres Deliserdang sudah melakukan pelanggaran.

“Kalau tidak ada proses hukum yang dilakukan Kapolres Deliserdang, maka dia juga telah melakukan pelanggaran. Dia juga harus diproses. Untuk itu, Kapolda Sumut harus turun tangan. Menindak personil-personilnya yang melakukan pelanggaran,” tukasnya.

Untuk M Afandi yang sekarang ditersangkakan polisi karena telah memukul Kompol Delami, sambung Syamsul Hilal, harus dibebaskan. Apa yang dilakukan Afandi itu merupakan runutan dari sikap arogan dan tak mau tanggungjawab polisi yang nabrak itu. Kalau si polisi yang nabrak ini mau bertanggungjawab atas kecelakaan yang terjadi, bisa jadi tidak akan ada pemukulan. Malah, polisi itu nabrak orang dua kali. Si korban pertama, dan warga yang memukul dia itu kan ditabrak juga. Makanya terjadi pemukulan,” terangnya.

Diberitakan sebelumnya, sikap arogan ditunjukkan Kabag Sumda Polres Deliserdang, Kompol Delami Saleh.

Seperti pada kasus yang dialami Muhammad Afandi (36), warga Jalan Batangkuis-Lubukpakam, No.1, Desa Baru, Kecamatan Batangkuis, Deliserdang ini. Niatnya menolong korban kecelakaan lalulintas (lakalantas) yang melibatkan Kepala Bagian (Kabag) Sumda Polres Deliserdang, Kompol Delami Saleh, malah berakhir penjara bagi Afandi.

Kepada wartawan, Reni (34), istri Afandi, menuturkan derita yang dialami suaminya tercinta itu terjadi pada Sabtu, 25 November 2017 lalu, bertepatan dengan Hari Guru dan prosesi Ngunduh Mantu Jokowi di Medan.

Pagi itu, sekira pukul 07.00 WIB, Inka Kristanti (14), warga Jalan Perjuangan 6, Dusun 5, Desa Bintang Meriah, Kecamatan Batangkuis, berangkat sekolah ke SMP Negeri 1 Batangkuis dengan mengendarai kereta Yamaha Force 1 ZR.

Baca Juga  Raja dan Ratu Keraton Agung Sejagat Janjikan Anggota Digaji Pakai Dolar

Sesampainya di Jalan Batangkuis-Lubukpakam, tepatnya di Gang Kamari dekat sebuah klinik, tiba-tiba muncul mobil Toyota Avanza warna putih plat nomor F 1675 NK dari arah belakang dan langsung berhenti mendadak di depan siswi SMP tersebut.

Tak ingin menabrak mobil, Inka Kristanti langsung menginjak rem dan sesaat itu juga berhenti. Inka kemudian belok ke kanan untuk melewati dari sisi kanan mobil milik orang nomor 4 di Polres Deliserdang tersebut.

Nah, di sinilah petakanya. Saat Inka mulai berjalan, tiba-tiba mobil tersebut juga melaju dan menyenggol stang kereta siswi SMP tersebut. Stang kereta berbelok mengenai bagian perut Inka, dia langsung terjerembab dan nyaris tak sadarkan diri, terkapar di aspal.

“Pas itu, suamiku yang baru ngantar anakku sekolah dari dalam Gang Kamari itu keluar. Suamiku naik sepeda motor Vario BK 3582 AEG. Dia nengok ada yang terkapar, dikira suamiku tewas. Karena tak bergerak. Kebetulan ada kawannya di situ, dia minta tolong supaya si Inka dibawa ke klinik, kan ada klinik di situ. Suamiku ngejar mobil yang punya pejabat Polres Deliserdang itu, Kompol Delami Saleh. Yang ngejar ada 4 orang, tapi suamiku dulu yang dapat terus dipalangkannya sepeda motornya di depan mobil polisi itu. Sekitar 600 meter dapatnya, itu didekat Sekolah Al Masdar,” tutur Reni.

Setelah itu, sambung Reni lagi, polisi tersebut (Kompol Delami Saleh) malah terus melajukan mobilnya dan menabrak suaminya (Afandi) dan keretanya sampai terjatuh. Sementara Kompol Delami masih tetap di dalam mobil.

“Ditabraknya lagi suamiku. Jatuhlah. Terus sempat tengkar mulut suamiku sama polisi itu. Polisi itu bilang, dia mau cepat mau PAM Jokowi. Kau udah nabrak orang, kau salah. Tanggungjawab kau. Kau tabrak lagi aku. Gitu katanya. Terus suamiku emosi, tepukul jugalah polisi itu sama suamiku, hidungnya berdarah. Habis itu dia selfie, moto pas hidungnya berdarah. Di situ ramai orang, udah dikerubungi polisi itu. Terus, polisi itu bilang gini lagi, aku polisi, kau tengok nanti ya, kau tengok nanti ya! Suamiku jawab, kenapa rupanya kalau kau polisi, kau salah. Kau harus tanggungjawab. Itu mobil polisinya pun kaca lampu belakangnya pecah, bodinya peyot. Gitu dibilang polisi itu pula, si Inka ini yang nabrak mobilnya,” tutur Reni menirukan ucapan Kompol Delami Saleh seperti yang diceritakan suaminya.

Lantas, semenit kemudian, seorang personel TNI yang bertugas di Koramil Batangkuis, bernama Muslim. Dia kemudian berinisiatif membawa Kompol Delami ke Polsek Batangkuis.

“Orang Koramil Batangkuis, namanya Muslim bilang sama suamiku, bawa sepeda motor sama helmku ke rumahmu. Biar aku yang bawa bapak ini ke Polsek Batangkuis. Saat itu kan banyak orang, orang-orang nengok ada pakaian polisi di bangku mobilnya, dia pakai baju biasa. Habis dibawa ke Polsek, orang-orang bilang, udah sporing (lari) aja kau, dia itu polisi, nanti malah kau yang disalahkan, bukan dia (Kompol Delami). Itu kata orang-orang di situ,” tuturnya.

Baca Juga  Kakek Sugiono Terciduk Cabuli Anak Tetangga, Habiskan Sisa Hidup di Penjara

Saat Kompol Delami dibawa ke Polsek Batangkuis oleh Muslim, personel Koramil Batangkuis, Afandi pun pulang. Dia bercerita ke istrinya, Reni soal kejadian itu.

Berselang beberapa saat, Muslim, personil Koramil Batangkuis datang ke rumahnya. Anehnya, Muslim merasa takut menjadi saksi dan menyarankan agar Afandi sporing alias lari, karena pelaku lakalantas tersebut adalah pejabat di Polres Deliserdang.

“Sekitar 45 menit, datanglah orang Koramil itu. Dia bilang supaya suamiku lari. Jadi kubilang, bapak (Muslim) kan bisa jadi saksi. Eh, dia bilang katanya takut. Nggak lama, datanglah beberapa polisi Polsek Batangkuis ke rumah, mau nangkap suamiku. Terus Koramil itu salam-salaman sama polisi langsung pulang. Ya kuhadapi aja polisi-polisi itu, marah-marah, mau nangkap suamiku, kulawani jugalah. Kubilang suamiku udah pergi. Waktu suamiku masih di rumah, kuminta dia nelpon Kepala Desa Baru, Udin panggilannya. Dispeakerkan suamiku hapenya, Udin itu bilang, nggak apa-apa, kau (Afandi) sudah benar, kan lari polisi (Kompol Delami) itu habis nyenggol anak SMP itu. Nanti aku tanggungjawab, gitu kata kades itu,” bebernya.

Singkat cerita, atas saran warga dan personel Koramil Batangkuis, Muslim, larilah Afandi ke Kutacane, Aceh Tenggara di rumah bibi mereka bernama As. Namun, Rabu (6/12/2017), Afandi akhirnya ditangkap.

“Ditangkap di rumah bibi kami, macam nangkap bandar sabu, macam teroris gitu, sampai-sampai naik di atas seng polisi itu. Suamiku kena pasal berlapis, ini nggak adil. Dia niatnya baik, malah diapun ditabrak polisi itu, kok jadi suami yang bersalah. Ini nggak adil, nggak percaya aku sama polisi. Yang betul bisa jadi salah, apalagi yang salah. Kalau suamiku dikenakan kasus pemukulan itu, oke aku terima. Tapi polisi itu juga harus diproseslah,” sebutnya.

Karena merasa penanganan kasus yang dialami suaminya tidak adil, Reni didampingi Samsini (45), orangtua Inka, korban lakalantas Kompol Delami, mengadukan kasus itu ke Propam Polda Sumut, Rabu (6/12/2017).

“Keterangan ibu polisi yang di Propam itu, katanya nanti seminggu ada hasilnya, ada keterangannya. Katanya kasusnya akan diproses. Jadinya bukan laporan, tapi surat permohonan perlindungan kepada Kapolda Sumut. Itu atas saran ibu polisi di Propam,” kata Reni sambil menunjukkan surat tersebut.

Sementara Inka Kristanti, siswi Kelas III SMP Negeri 1 Batangkuis didampingi ibunya, Samsini yang dikonfirmasi wartawan, membenarkan jika dirinya menjadi korban lakalantas. “Iya, mobil polisi. Saya nggak pingsan waktu itu, tapi saya nggak bisa apa-apa,” jawabnya sembari menunjukkan bekas luka yang dialaminya.

“Awalnya di klinik dekat kejadian, tapi klinik nggak sanggup, terus dirujuk ke RS Patar Asih. Langsung masuk Instalasi Gawat Darurat (IGD), sampai 4 hari di IGD. Tak sekalipun Kompol Delami itu menjenguk si Inka ini. Ada yang datang memang polisi, itu dari Polsek Batangkuis, bukan Kompol Delami itu. Sampai sekarang pun nggak pernah datang,” timpal Reni diamini ibu kandung Inka, Samsini. (anto)