Loading...

Puluhan Korban Perdagangan Manusia Berhasil Diselamatkan Polisi, Berkat Terungkapnya Kasus…

Loading...

CEKTKP.ID, MEDAN- Personel Ditreskrimum Polda Sumut menggagalkan dua kasus perdagangan manusia di Sumut. Berkaitan kasus itu, petugas mengamankan 16 orang pelaku yang terlibat upaya menyelundupkan puluhan orang pria dan wanita ke Malaysia melalui jalur tikus untuk dipekerjakan secara ilegal.

Kapolda Sumut, Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel, mengungkapkan dua kasus perdagangan manusia yang terungkap itu dalam praktiknya menggunakan modus serupa, yaitu dengan cara menawarkan pekerjaan kepada masyarakat.

“Modusnya serupa, yaitu dengan menawarkan pekerjaan kepada masyarakat dengan latarbelakang ekonomi menengah kebawah baik laki-laki maupun perempuan. Para korban kemudian diberangkatkan secara ilegal dengan jalur penyelundupan ke Malaysia,” jelas Rycko.

Diterangkannya, kasus perdagangan manusia tersebut terungkap pada 7 April 2017 dan 3 Mei 2017 yang lalu. Kasus yang semula diungkap berawal dari Desa Bagan Asahan, Kecamatan Tanjung Balai, Kabupaten Asahan dengan menangkap tujuh orang pelaku dan lima orang korban.

Baca Juga  CIA Tuduh Putra Mahkota Arab Saudi Sebagai Otak Pembunuhan Khashoggi

Pengungkapan selanjutnya dilakukan di kawasan Sei Pasir, Kecamatan Sei Kepayang Timur, Kabupaten Asahan. Dari lokasi tersebut petugas mengamankan sembilan orang sebagai tersangka bersama 25 orang korban yang akan diselundupkan.

“Peran para tersangka berbeda-beda, ada yang berperan sebagai tekong laut untuk menyediakan transportasi laut menuju Malaysia, kemudian ada juga yang bertugas sebagai tekong darat untuk menyediakan akomodasi selama menunggu para korban diberangkatkan. Sebagai sebagai kordinator perekrut juga ada, para perekrut sudah ada hampir di seluruh Sumatera dan Jawa,” jelas Rycko.

Sementara Direktur Ditreskrimum Polda Sumut, Kombes Pol Nurfalah menambahkan, hasil penyidikan sementara pihaknya, dua penyalur TKI ilegal yang turut diamankan pihaknya dalam kasus itu diketahui sudah beroperasi lebih dari sepuluh tahun. Para korbannya sebagian besar berasal dari pulau Jawa, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Sumut yang umumnya terhimpit masalah ekonomi. (CEKTKP/ANTO)