Loading...

Wow! Kapolri Dibawa-bawa Gara-gara Kasus di Poldasu Ini

Loading...

CEKTKP.ID, MEDAN- Ultimatum anggota komisi III DPR RI untuk menangkap kembali sembilan bandar narkoba yang berhasil kabur dari dalam sel tahanan Direktorat Narkoba Polda Sumut dikangkangi, Kapolri diminta bertanggung jawab.

“Kita sudah mengagendakan untuk memanggil Kapolri akhir bulan Agustus ini, salah satu poin penting dari agenda itu adalah evaluasi terhadap kinerja Polda Sumut yang tidak kunjung berhasil menangkap kembali tahanan narkoba yang kabur itu,” kata Junimart Girsang, anggota Komisi III DPR RI ketika dihubungi dari Medan, Senin (8/8).

Menurut Junimart, sebelumnya Komisi III DPR RI sudah memberikan ultimatum kepada Kapolda Sumut Irjen Pol Raden Budi Winarso dan Direktur Narkoba Kombes Pol Edy Iswanto  untuk segera menangkap kembali para bandar dan pengedar narkoba yang kabur dari dalam tahanan pada Senin, 13 Juni lalu sekitar jam 1.00 WIB, saat petugas jaga meninggalkan tugas dan memilih menonton televisi pertandingan sepak bola Piala Eropa.

“Saya sudah bilang, Kapolda harus menangkap kembali para bandar narkoba yang kabur itu hingga akhir bulan Juli kemarin. Sekarang sudah masuk bulan agustus para tahanan itu belum juga berhasil ditangkap, ini sudah melebihi batas waktu. Karena itulah kami memanggil Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian,” imbuhnya.

Sebab, sambung politisi PDI Perjuangan ini, tahanan kabur itu ternyata bukan hanya ada di Polda Sumut tetapi juga terjadi di Simalungun. Karena itu, perlu dilakukan evaluasi dan peninjauan kembali personel yang melakukan penjagaan.

“Memang sesuai dengan informasi yang saya dapat, penjaga tahanan itu rata-rata personel yang memiliki catatan khusus (bermasalah) dan cenderung buangan dari Satker lain. Paradigma itu yang perlu diubah dan harus ada edukasi ulang,” sebutnya.

Baca Juga  Eggi Sudjana Resmi Jadi Tersangka Kasus Dugaan Makar

Terpisah, ketua Gerakan Anti Narkoba (Granat) Sumut, Hamdani Harahap menilai, kegagalan Polda Sumut untuk menangkap kembali para bandar narkoba yang kabur dari dalam tahanan itu mengindikasikan adanya keterlibatan oknum-oknum tertentu dalam pelarian para bandar tersebut.

Apalagi setelah terbongkarnya testimoni Freddy Budiman yang menyebut ada oknum Polri dan aparat lainnya dalam peredaran narkoba di Indonesia, khususnya di Medan karena Freddy Budiman pada saat penangkapan lokasinya di Medan.

“Sudah seharusnya memang, Kapolri mengevaluasi seluruh jajarannya termasuk Polda Sumut, karena kaburnya para tahanan itu tidak mungkin terjadi jika tidak ada keterlibatan oknum didalamnya. Apalagi ada testimoni dari seorang gembong narkoba Freddy Budiman,” katanya.

Hamdani meminta, Polda Sumut harus secara proaktif melakukan investigasi didalam internalnya sendiri agar permainan oknum-oknum tersebut bisa tereliminir.

“Harus ada evaluasi dan investigasi internal. Sepanjang itu belum dilakukan maka jangan harap ada perubahan. Namun, perlu dicatat investigasi dan evaluasinya dilakukan secara serius dan dilakukan tanpa pandang bulu, intinya harus ada ketegasan,” ungkapnya.

Sementara itu, Kasubbid Penmas Polda Sumut, AKBP MP Nainggolan mengatakan, pihaknya sudah melakukan upaya maksimal untuk menangkap kembali para tahanan yang kabur tersebut, namun baru tiga orang yang bisa kembali diamankan.

“Upaya maksimal sudah dilakukan, seluruh kekuatan tim yang melakukan pengejaran itu sudah dilakukan walau belum berhasil diamankan kembali, saya hanya bisa bilang bersabar karena sampai kapan pun mereka (tahanan yang kabur) akan terus dicari, bahkan hingga mati sekalipun liang kuburnya akan ditelusuri. Di mana matinya, mengapa mati dan siapa pelakunya,”kata dia.

Baca Juga  Gerayangi Anggota PPK, Komisioner KPU Yogyakarta Dipecat

Diketahui sebelumnya, Senin, 13 Juni lalu, sekitar jam 1.00 WIB, 11 orang bandar narkoba yang ditahan di sel Direktorat Narkoba Polda Sumut berhasil melarikan diri. Kemudian, setelah dilakukan pencarian, tiga di antaranya kembali ditangkap.

Ketiganya yakni Rikho Triyoga Tama (32), warga Jalan Pesantren Gang Masjid, Medan, Datuk Ega Juanda alias Ega (28), warga Jalan Tertib, No.99, Komplek Panggon Indah, Linkungan XI, Kelurahan Rengas, Pulau Kecamatan Medan Marelan dan Amad alias Syaiful Bahri (31), warga Desa Namo Riam Kecamatan Pancurbatu, Deliserdang.

Sedangkan sembilan bandar narkoba lainnya hingga kini keberadaanya masih misterius. Meski dilakukan pengejaran, namun hasilnya masih nihil, yakni Syarifuddin (43), warga Jalan Pambon Kelurahan Belawan Bahari Kecamatan Medan Belawan, Suhermanto (25), warga Gang Tengah Trangon, Kabupaten Gayo Lues, Aceh, Busra (38), warga Desa Paya Rabo, Kecamatan Sawang, Aceh Utara.

Yudhi Kurniawan (26), warga Jalan Flores, No.10, Lingkungan II, Kelurahan Kebun Lada, Binjai, Abdullah (37), warga Jalan Pulau Rupat, Lingkungan IX, Kelurahan Belawan Bahari, Kecamatan Medan Belawan.

Kemudian, Teddy Sugara (39), warga Jalan Pancasila, Gang Keluarga, No.9, Kelurahan Tegal Sari Mandala III, Kecamatan Medan Denai, Suliyadi (33), warga Dusun Kelapa, Desa Melati II, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Sergai, Herijal (24), warga Dusun Mangga II, Desa Uyem Beriring, Kecamatan Tripe Jaya, Kabupaten Gayo Lues.

(anto/cektkp/vdp)