Loading...

Rupiah Melemah, Waspada Lonjakan Harga Pangan

Loading...

Cektkp.id, Medan- IHSG dan rupiah sampai saat ini masih melanjutkan tren pelemahan semenjak kemarin. Saat ini mata uang Rupiah melemah di kisaran 14.327 per US Dolar, sementara itu IHSG terpuruk 2% lebih di sesi 1 perdagangan pada hari ini. Kondisi pasar keuangan kita tengah terguncang seiring dengan meningkatnya tensi perang dagang antara AS dan Cina.

Bukannya membaik, pasca perundingan terakhir, kedua negara ini khususnya AS justru melancarkan serangan baru ke Cina yang membuat kondisi pasar keuangan global terpuruk. Hal ini sangat mengkhwatirkan seluruh pelaku pasar di dunia, bukan hanya di tanah air. Ada begitu banyak spekulasi yang menyebutkan bahwa perang dagang yang berlanjut ini akan membuat banyak negara berkembang terseret dalam arus krisis yang baru.

Analis Keuangan Sumut, Gunawan Benjamin mengatakan, Indonesia sendiri juga tengah mengalami tekanan hebat dari sisi indikator ekonomi makronya. Defisit transaksi berjalan menjadi salah satu tantangan yang tak mudah dituntaskan, di tengah pelemahan mata uang, melambatnya ekspor ditambah dengan kebutuhan barang modal maupun bahan baku yang tinggi untuk pembangunan.

Baca Juga  Dosen Asal Malaysia: Potensi Zakat Sangat Besar Jika Digunakan untuk Hal-hal Produktif

“Walaupun saya secara pribadi Indonesia akan lebih kuat menghadapi tekanan ekonomi global. Akan tetapi kita juga harus mempersiapkan diri, untuk melakukan upaya agar bisa meminimalisir dampak dari keruwetan ekonomi dunia belakangan ini. Mau tidak mau harus ada yang dikorbankan,” katanya, Selasa (6/8/2019).

Bisa saja yang dikorbankan itu adalah pembangunan yang membutuhkan banyak sokongan bahan baku maupun barang modal dari negara lain. Yang perlu dipikirkan selanjutnya adalah, adanya potensi capital outflow yang bisa memicu defisit transaksi pembayaran di tanah air. Kalau capital outflow ini tak terbendung, rupiah maupun indeks saham bisa terpuruk.

“Terlebih saat ini, US Dolar cenderung lebih diminati dibandingkan aset-aset dari negara berkembang yang dinilai lebih volatile. Selanjutnya adalah kita perlu mewaspadai potensi lonjakan harga pangan yang diakibatkan pelemahan tersebut,” ujarnya.

Baca Juga  Arief Puyuono: Bank Mandiri Tidak Bisa Hanya Minta Maaf

Ini kan sangat mengkhawatirkan mengingat laju tekanan inflasi nasional sudah diatas 2% selama tahun berjalan. Jadi memang seharusnya ada yang bisa dilakukan untuk meredam inflasi agar tidak lebih dari angka 3.5%. (cektkp/rel)