Perbedaan Asuransi Syariah dan Asuransi Konvensional

Anda masih bingung pilih asuransi syariah atau konvensional? Simak perbedaan asuransi syariah dan asuransi konvensional yang perlu Anda pahami ini.


Setiap orang pastinya memiliki resiko dalam hidup, baik hal kesehatan, berkendara, pendidikan, hari tua nanti, dan sebagainya.

Terkait resiko terutama yang berkaitan dengan finansial, memiliki asuransi adalah pilihan terbaik. Banyak jenis asuransi dan cara kerja asuransi.

Berbicara soal asuransi, terdapat dua asuransi yaitu asuransi syariah vs asuransi konvensional. Kedua asuransi ini memiliki perbedaan, simak perbedaan jenis asuransi ini.

Perbedaan Asuransi Syariah dan Asuransi Konvensional

1. Prinsip Dasar

Asuransi konvensional menggunakan prinsip dasar memindahkan resiko dari pemegang polis asuransi ke perusahaan asuransi secara penuh. Kondisi ini dikenal juga dengan istilah risk transfer.

Jadi, pihak perusahaan asuransi akan menanggung resiko dari objek yang Anda asuransikan atas nama Anda, bisa berupa aset, jiwa, kesehatan, atau juga kendaraan.

Sedangkan untuk prinsip dasar dari asuransi syariah adalah risk sharing alias berbagai resiko antara pihak pemegang polis dan pihak perusahaan asuransi.

Jadi, sistemnya tolong menolong atau saling membantu sehingga pengumpulan serta pengelolaan premi asuransi menggunakan sistem sharing.

2. Perjanjian Polis Asuransi

Perbedaan asuransi syariah dan asuransi konvensional berikutnya adalah dari sistem perjanjian (akad) yang ada pada kontrak polis asuransi yang akan disetujui kedua pihak. Pihaknya adalah Anda sebagai pemegang polis dan perusahaan sebagai penanggung resiko.

Jika pada asuransi biasa, perjanjian atau akad yang digunakan dikenal dengan istilah “akad tabaduli”, yaitu sistem jual beli yang jelas apa atau siapa objeknya, siapa penjualnya, siapa pihak pembelinya, dan berapa harganya.

Pihak pembeli dan penjual dalam hal ini harus sama-sama jelas dengan isi dari kontrak, memiliki pemahaman yang sama atau tidak ada salah paham pada aturan atau kebijakan tertentu, dan keduanya sama-sama setuju dengan perjanjian tersebut.

Sedangkan untuk akad pada asuransi syariah adalah menggunakan “akad takaful” atau yang berarti tolong menolong. 

Sistemnya adalah saat pihak pemegang polis mengalami musibah atau masalah atau kejadian tak terduga yang membuatnya harus mengeluarkan biaya untuk objek yang diasuransikan.

Untuk itu, pihak perusahaan akan memberikan bantuan dalam bentuk dana sosial atau yang disebut dana tabarru’.

Saat memberikan dana bantuan ini, perusahaan harus meniatkannya untuk membantu, bukan untuk mendapat profit maupun keuntungan bisnis.

3. Kepemilikan Dana dan Pengelolaan

Hal lain yang membedakan asuransi syariah dengan asuransi konvensional terletak pada kepemilikan dan pengelolaan dari dana asuransi itu sendiri. Dana premi yang ada pada asuransi konvensional harus dibayar oleh pemegang polis.

Selanjutnya, dikelola oleh pihak perusahaan sesuai dengan perjanjian yang sudah disepakati sebelumnya. Dana ini sebelum akhirnya nanti dicairkan bisa dialihkan dulu ke investasi atau hal lain apapun oleh pihak perusahaan.

Pasalnya, status dana tersebut sementara menjadi milik perusahaan sampai saatnya nanti Anda mengajukan klaim. Sementara pada asuransi syariah, pihak perusahaan tidak memiliki hak atas kepemilikan dana tersebut, tapi memang berperan sebagai pihak yang mengelola.

Perusahaan akan mengelola premi-premi nasabah secara maksimal agar nantinya juga memberikan keuntungan yang maksimal pada nasabah dan semua sistemnya sangat transparan.

Lalu pada proses pengelolaan dana ini, perusahaan hanya akan menggunakannya untuk hal-hal yang jelas dan halal, baik dari sifat, fakta, bentuk, hukum, dan lainnya.

4. Pengawasan Dana

Perbedaan asuransi konvensional dan syariah terletak juga pada pihak pengawasan dana. Perusahaan asuransi konvensional tidak memiliki badan pengawas khusus yang bisa terus memantau sistem atau kegiatan dari perusahaan itu sendiri.

Tapi, setiap perusahaan yang beroperasi harus sudah terdaftar secara resmi dan mendapat izin untuk beroperasi dari pihak OJK. 

Hal ini berbeda dengan perusahaan asuransi syariah yang dalam kegiatan asuransi melibatkan pihak ketiga sebagai badan pengawas dana, yaitu DPS (Dewan Pengawas Syariah).

Dewan ini memiliki tanggung jawab untuk mengawasi berbagai kegiatan yang ada pada perusahaan asuransi syariah.

Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa semuanya berjalan sesuai dengan prinsip atau hukum Islam. DPS sendiri selanjutnya bertanggung jawab kepada MUI.

5. Surplus Underwriting

Surplus Underwriting adalah istilah untuk dana lebih yang ada di rekening sosial yang diberikan kepada pemegang polis. Dana ini termasuk pendapatan lain setelah pemberian dana santunan atau pengajuan klaim terjadi.

Pada sistem asuransi syariah, surplus underwriting ini ada sebagai bagian dari pembagian keuntungan yang sifatnya adalah rata. Tapi pada asuransi konvensional, sistem ini tidak ada. Sebagai gantinya, ada sistem yang disebut klaim bonus.

Jadi setelah pemegang polis mengajukan klaim, pihak perusahaan bisa saja memberikan bonus dengan syarat dan ketentuan tertentu.

6. Dana Hangus

Perbedaan terakhir dari asuransi syariah dan konvensional adalah dana hangus. Jadi pada asuransi syariah, premi yang sudah dibayar selama ini akan tetap menjadi milik pemegang polis dan bisa ditarik kembali (meskipun kadang ada pemotongan untuk dana tabarru’).

Tapi pada asuransi konvensional, dana bisa hangus jika pemegang polis tidak bisa lagi membayar premi, periode polis berakhir, atau karena sebab lain yang sudah ada pada perjanjian.

Meskipun sama-sama asuransi, tapi ternyata asuransi syariah dan konvensional memiliki perbedaan yang cukup signifikan.

Agar bisa menentukan pilihan yang paling tepat, Anda perlu memahami beberapa perbedaan asuransi syariah dan asuransi konvensional dalam daftar di atas tadi.

Demikian ulasan mengenai perbedaan antara asuransi syariah dan asuransi konvensional yang perlu Anda pahami. Semoga bermanfaat.

Leave a Comment